jump to navigation

[KASUS PRITA MULYASARI] Hati-hati…. Di Indonesia CURHAT Bisa Di Penjara Juni 3, 2009

Posted by ekojuli in UMUM.
Tags: , ,
trackback

gbr nyedot di: ndorokakung.com

gbr nyedot di: ndorokakung.com


Prita Mulyasari (32 tahun) seorang ibu 2 orang anak mencintai keluarganya, juga mencintai teman-teman-nya, juga sesamanya, DIPENJARA karena berusaha memberitahu pengalaman pahitnya (bahkan membahayakan nyawanya) kepada orang-orang yang dicintainya. Supaya orang-orang yang dia cintai tidak mengalami hal serupa. Begitu kira-kira beritanya.

Cerita ini berawal ketika Ibu Prita CURHAT di Surat Pembaca detik.com (30/08/2008) yang isinya menceritakan pengalamannya berobat di RS OMNI Rumah Sakit bertaraf Internasional. Dia juga membuat email ke teman-temannya tentang pengalamannya tersebut.

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

baca selengkapnya di detik

Rupanya ceritanya bersambung dan membesar layaknya Sinetron Indosiar, muncul setengah halaman besar di Kompas tentang “Bantahan dan Sanggahan” dari RS OMNI. Singkat cerita, RS OMNI merasa dicemarkan nama baiknya, dan membawa kasus ini ke Pengadilan.

Surat elektronik itu membuat Omni berang. Menurut pengacara Omni Internasional, Heribertus, isi surat Prita telah mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut beserta sejumlah dokter mereka: Hengky Gosal dan Grace Hilza Yarlen Nela. ”Padahal, tidak ada penyimpangan etika kedokteran dan prosedur penanganan pasien,” ujar Heribertus.

Omni memang tidak main-main menanggapi surat elektronik Prita. Selain melaporkan Prita ke polisi, Omni juga menggugat perempuan tersebut secara perdata. ”Sudah kami daftarkan ke Pengadilan Negeri Tangerang,” kata Heribertus.

hanya cuplikan, yang lengkap baca di: Tempo

Bagaimana Ibu Prita Sekarang?

Ia dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit itu. Prita kalah di persidangan perdata. Naik banding. Ia juga menghadapi persidangan pidana dan dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita “dititipkan” di penjara wanita Tangerang sejak 13 Mei 2009.

Dua anaknya yang masih balita pun terpaksa terpisah dari ibunya. Simak laporan Koran Tempo:

Sudah tak terbilang berapa kali Khairan Ananta Nugroho dan adiknya, Ranarya Puandida Nugroho, menanyakan keberadaan ibu mereka. Setiap menjelang tidur dan bangun dari peraduan, keduanya mencari sang ibu sambil menangis. “Bunda mana? Bundaaaaa,” jerit Ananta, 3 tahun, kala terjaga.

“Saya jawab, ‘Ibu sedang dirawat di rumah sakit,'” tutur Andri Nugroho, 30 tahun, ayah Ananta dan Ranarya, dengan wajah sedih kemarin di rumahnya, Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan. Lantaran istrinya tak kunjung pulang, Andri terpaksa mengganti asupan ASI untuk anak bungsunya dengan susu formula. Ranarya, 1 tahun 3 bulan, diasuh bergantian oleh Andri dan pembantu rumah tangganya.

Pegawai perusahaan swasta di Senen, Jakarta Pusat, ini terpaksa berbohong karena anaknya masih terlalu kecil untuk memahami persoalan yang mendera Prita Mulyasari, 32 tahun, ibu mereka. “Ini untuk kebaikan dan perkembangan psikologi mereka.”

Prita karyawati di bagian call center sebuah bank swasta. Perempuan kelahiran 1977 di Solo, Jawa Tengah, itu mendekam di Penjara Wanita Tangerang sejak 13 Mei lalu. Ia dituduh mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang Selatan, lewat Internet. Ancaman hukuman pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik itu maksimal 6 tahun penjara atau denda Rp 1 miliar.

Semua bermula dari keluhan Prita atas pelayanan rumah sakit ketika dia dirawat pada awal Agustus 2008 lewat surat elektronik. Semula ia divonis terjangkit demam berdarah sehingga mesti rawat inap. Belakangan dokter menyatakan Prita terkena virus udara.

Merasa keluhannya tak ditanggapi, Prita menuliskan pengalamannya via e-mail pada 15 Agustus 2008. Pihak rumah sakit menjawab keluhan lewat mailing list dan dua koran nasional. Ia akan disidang pada 4 Juni nanti di Pengadilan Negeri Tangerang. Sebelumnya, sidang perdata memutuskan Prita melanggar hukum. Tapi kedua belah pihak menyatakan banding.

Perihatin…. hanya itu kata yang bisa terlontar… Sejujurnya, hati ini sesak tanpa tahu harus berbuat apa. Menulis ini pun (barangkali) salah dan bisa dianggap mencemarkan nama baik. Klu begitu berapa puluh blogger yang akan masuk penjara gara-gara menulis seperti ini.

Ini loh saya kutip, CURHAT Prita di Surat Pembaca detik, yang memulai cerita ini:

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

Ini dia link yang berhubungan dengan kasus ini:

tempo interaktif

kata “penipuan” menjerat prita

tanggapan YLKI

media konsumen

tika banget

About these ads

Komentar»

1. nina - Juni 3, 2009

Saya juga bakal masuk penjara kayaknya, mas..>,<
Balik ke jaman batu kita kayaknya…
Padahal yang dilakukan Bu Prita itu human right. Seperti kata artikel 19 universal declaration of human rights. Bahwa :
"everyone has right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers"
Waktu di Jakarta saya sekeluarga langganan di Omni karena rujukan kantor suami. Mbaca berita Bu Prita rasanya saya pengen dateng ke Omni, masuk ke lobinya yang berpiano dan nanya "Kalo saya berobat disini saya bakal kalian penjarakan seperti Bu Prita ngga?"
Bikin emosi…

jikakakakkkkk gw ngakak abiz mbak nin… recomended nih review nin’s journey

2. Barata Nagaria - Juni 3, 2009

Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien
oleh RS OMNI International Alam Sutera

Apakah yang sudah Anda lakukan untuk menggalang anti kriminalisasi pasien oleh RS OMNI International Alam Sutera ? Atau Anda hanya membaca dan menonton kasus itu di Media Cetak dan Televisi ?
Jika Anda peduli, namun tidak tahu caranya mengekspresikan kepedulian Anda, berikut ini adalah langkah praktis untuk menyampaikan aspirasi Anda :
1. Kirim Email kekecewaan dan kutukan Anda, kepada :
info@omnihealthcare.co.id dan info@omni-hospitals.com (RS OMNI International Alam Sutera)
mph@cbn.net.id (Pengacara RS OMNI International Alam Sutera dari Risma Situmorang, Heribertus & Partners).
2. Anda juga bisa menyampaikan kekecewaan dan kutukan Anda secara langsung kepada nomor telpon : 021-53128555 (hunting). Jangan hanya berbicara sama operatornya, tetapi kalau bisa dengan para manajemen RS OMNI International Alam Sutera, yaitu Sukendro (Direktur Utama), Dina (Direktur), .
3. Cara lainnya adalah dengan mengirimkan fax dukungan yang sama ke nomor : 021- 53128666.
Marilah kita semua melakukan langkah nyata sebagai rasa solidaritas dan tangggungjawab sosial personal. Agar kasus kriminalisasi terhadap pasien yang dilakukan oleh RS Internasional merupakan yang pertama dan yang terakhir. Lakukan apa yang bisa dilakukan, sekarang juga. Terima kasih atas kepedulian Anda.
Wassalam,

BARATA NAGARIA
Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien Indonesia (SAKPI)
Web, http://andi-kriminal.blogspot.com
Email : barata.nagaria@yahoo.co.id

langsung ke TKP ndan….!!!!

3. Kuta beach | Bali adventure | Internet marketing center | Afiliasi | Adat dan kebudayaan » Blog Archive » Alhamdulillah Ibu Prita Mulyasari Bebas - Juni 3, 2009

[...] Setelah mengikuti perkembangan informasi menganai pencemaran nama baik RS OMNI yang di lakukan oleh Ibu Prita Mulyasari yang mana  pencemaran ini bermula saat ibu memeriksakan penyakitnya ke RS OMNI dan mendapatkan hasil yang tidak memuaskan dengan data yang di inginkan alias tidak ada kepastian, lebih lengkap nya anda bisa membaca kasusnya di sini dan kebetulan membaca berbagai pendapat dari temen-temen yang salah satunya dari sini. [...]

4. dedekusn - Juni 3, 2009

ALhamdulillah,Bu Prita sekarang sudah bebas bersyarat (tahanan kota).
Bloger jangan takut curhat, kalau kita tak bersalah kenapa takut….
Bu Prita terima kasih, karenamu kami tahu “kualitas hukum dinegeri” ini…. atau emang masyarakat sudah pada tahu dari dulu?

ya….. gitu deh

5. [KASUS PRITA MULYASARI -2] Kalau OMNI Menang, Apa yang Terjadi? « EkoJuli - Juni 4, 2009

[...] Pembaca. Seorang rekan blogger saya, yang dulu pelanggan tetap di RS OMNI, bahkan menulis comment di tulisan saya sebelumnya, Waktu di Jakarta saya sekeluarga langganan di Omni karena rujukan kantor suami. Mbaca berita Bu [...]

6. ujieeiju - Juni 4, 2009

tenang2…!!
siapa takut kalo gag salah, hajar bleh !!

iya bleh

7. feeds.bloggerpurworejo.com » [KASUS PRITA MULYASARI] Hati-hati…. Di Indonesia CURHAT Bisa Di Penjara - Juni 4, 2009

[...] [KASUS PRITA MULYASARI] Hati-hati…. Di Indonesia CURHAT Bisa Di Penjara Filed under: Uncategorized — @ 7:44 am [...]

8. feeds.bloggerpurworejo.com » [KASUS PRITA MULYASARI -2] Kalau OMNI Menang, Apa yang Terjadi? - Juni 4, 2009

[...] ini (4 Juni 2009) sidang pertama kasus Prita Mulyasari. Seorang Ibu rumahtangga yang dipenjara karena menulis Surat Pembaca karena tidak puas dengan [...]

9. tantri hapsari darmawan - Juni 4, 2009

Wahhh aku sempet pake jasa RS Omni, tapi denger cerita ibu Prita aku mesti jauh2in itu RS walau itu RS paling deket sama rumah, sungguh mengecewakan.. Aku sendiri ngeliat RS Omni tdk profesionalb apalagi bag asuransi nya, tampang nya jutek2, selalu kekeh klo multivitamin nga d bayarin padahal blm konfirmasi ke asuransi nya langsung klo aku sekelg dapet 100% ditanggung, trus pernah nyalahin aku klo form asuransi yg hrs di ttd-in dok nga aku kasih ke dok, ngotot pula, ehhhh nga tau nya suster Omni yg salah ngasih ke dok yg lagi laen yg bareng jadwal praktek nya. Say no to OMNI!!!

terkuak semua deh belangnyaaaa

10. Josiki - Juni 4, 2009

Omni omni kacian deh luh, makanya sakit itu mahal, bagi yg miskin. Bagi yg mampu sih oks aja, tp nyawa taruhannya.

orang miskin dilarang sakit

11. tomi - Juni 4, 2009

RS OMNI INTERNASIONAL DAN PENEGAK HUKUM DI INDONESIA SUDAH SEKONGKOL UNTUK MENCEMARKAN NAMA BAIK MEREKA MASING- MASING, DASAR ORANG KAYA DINDONESIA PADA RAKUS AROGAN TOLOL SERAKAH SOMBONG YANG AHIRNYA SANGAT MEMALUKAN SEKALI BUAT BANGSA KITA INI. MAKANYA KITA SEKARANG HARUS NGACA DIRI DIDIK ANAK YANG BENAR!! JANGAN JADI MANUSIA-MANUSIA SEPERTI YANG DI ATAS YANG AHRINYA MERUGIKAN DIRI KITA JUGA MALU KLO SUDAH KEJADIAN MALU SAMA DIRI SENDIRI BUKAN MALU SAMA SESAMA MANUSIA SOALNYA KALO MALU SAMA SESAMA MANUSIA SUDAH TIDAK ADA LAGI RASA MALUNYA,

12. yudi - Juni 4, 2009

bubarin aja rumah sakit omni, rumah sakit yg cuma bisa bikin org sakit tambah sakit dan meres duit pasen sampe ludes dan lemes

13. ozi - Juni 5, 2009

kok ada rs kayak gt? dokternya jg aneh, udah lupa apa ama sumpah provesi mereka
semoga bu prita bs bebas dan berkumpul lg ama keluarganya. amin

dukunggggggggggg

14. Wee Dee - Juni 5, 2009

trnyata mental2 Orba msh bnyk di negeri ini…

weh orba ya???

15. BrokerS - Juni 5, 2009

Gue jadi ngeri ke RS nih bisa2 bukannya gue sehat malah di bui nih
salut buat ibu Prita, saya doain semoga tetap tegar menghadapi semua ini, kami mendapat banyak pelajaran & hikmah dibalik kasus ini.

Buat yang masih peduli ama negeri ini tolong !!!!!!
1. Benahi mental2 para pelayan rakyat biar kagak bobrok kayak sekarang supaya negeri kita lebih bermartabak (bukan martabak padang yah), oke bro….
2. Segala sesuatu hendaknya diselesaikan secara musyawarah dan baik2 bukan musakpenjara (eit.. salah..bro maksud saya masuk penjara / dibuih gitu loh istilah kerennya..)
3. Buat aparat yang terkait tolong kalau buat UU jangan asal ujung2nya duit gitu loh..hendaknya kalau buat UU berpihak pada rakyat dong, ok bro
4. Ini buat manajemen RS. Omni International gitu loh, saya ada usul, ini juga kalau diterima gimana kalau nama RS Omni International diganti aja menjadi LP Omni International, ini cuma usul yah (just kidding , peace bro…)

Menurut Lingkaran Survey Orang Sakit (LSOS), melibatkan sekitar 1250 responden sejabodetabek dengan pilihan RS OMNI Internatinal atau Ponari Sang Dukun Cilik dan inilah hasilnya (udah kayak kampanya aja nih..) :
– RS. OMNI International (0,75% responden memilih RS. OMNI ini juga karena ketidaktahuan mereka terhadap RS.ini)

– Ponari Sang Dukun Cilik (99,25 responden memilih ponari, hidup ponari…dan menjadikan pemilihan ini akan dimenangkan oleh ponari dengan satu kali putaran aja, udah kayak pemilihan capres aja nih )

Hidup ….. hidup apa yah jadi lupa nih.

16. ibm - Juni 6, 2009

kalo curhat aja ketangkep … buset dah … ga usah pake blogers lagi dah …

mending besok kita semua beli buku agenda atau diary kembali … persis seperti zaman dahulu lagi gan … kalo ada masalah tulis aja … kalo ada uneg2 tulis truusss … nah nanti kalo kita dah meninggal .. kasih dah tuh buku ama anak cucu atau temen deket kita biar mereka bisa tau unek2 sampe curahan hati kita … kalee2 ada yg salah atau yg menyinggung seseorang atau perusahaan orang lain … kita ga kena pidana lagi ( wong udah modar masa mau di tuntut … swt dah ) … hehehe …

makin mundur saja negeri ku … !!!

maju mundur bro… kaya ….. sikat gigi

17. SIMPANG SIUR DUGAAN SUAP OMNI UNTUK KEJAKSAAN « EkoJuli - Juni 12, 2009

[...] Mulai dari, dipenjara karena curhat, [...]

18. feeds.bloggerpurworejo.com » SIMPANG SIUR DUGAAN SUAP OMNI UNTUK KEJAKSAAN - Juni 12, 2009

[...] Mulai dari, dipenjara karena curhat, [...]

19. xx - Juni 13, 2009

Saya benar turut prihatin sekali dengan apa yang telah menimpa pada mbak Prita. Saya yakin masih banyak saudara – saudara kita yang mengalami nasib seperti mbak Prita.

Yang lebih memalukan lagi, kebebasan kita sebagai warga negara tidak 100 persen terjamin. Coba gara kirim complaint begitu saja sudah di tuntut!!!!!!!

Seharusnya mereka itu berkaca diri bahwa keluhan – keluan itu dijadikan pelajaran untuk lebih mengoptimalkan pelayanan terhadap masyarakat.

Ya saya harap mereka lebih berhati-hati terhadap siapa pun, karna bangsa kita sudah tidak bodoh lagi dan jangan coba membodohi.

Saya begitu kagum dengan mbak prita yang begitu gigih berjuang melawan ketidak adilan yang di terima dari perusahan tsb. Dari pengalam mbak itu saya bisa belajar bahwa kita harus lebih waspada dan lebih teliti dalam memilih dokter.

Mungkin masyarakat kita juga sudah bisa menilai kualitas rumah sakit dan pelayanan kesehatan di negri ini.

Kalo say aboleh cerita, saya juga ada teman, dia sering mengalami pusing dan mual. Mungkin sekitar 2 bulan lalu dia pergi ke salah satu rumah sakit atau klinik di surabaya.

Saya ngak tau persis jalan ceritanya, tapi waktu saya ketemu dengan dia dia bercerita bahwa dirinya di Vonis tumor otak setelah melakukan rongten.

Nah betapa shocknya ( dia hampir ngak percaya kalo dirinya tingal hidup beberapa bulan lagi) teman saya ini. Dokter ini menyarankan untuk pergi ke dokter ahli lainya, tapi saya tidak menanyakan apakah dokter itu yang merekomendasikan ke dokter selanjutnya.

Hasinya dokter kedua menyatakan hal yang sama bahwa dia terkena tumor otak. Dan hal itu sampai terjadi pada dokter krtiga yang hasinya sama dengan pertama dan ke dua.

Mungkin anda bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh teman saya ini. Setiap hari selam seminggu hanya bisa menangis dan pingsan lebih dari 5 kali sehari.

Waktu itu saya cuma bisa mengasih dorongan dan berdoa dan tabah bahwa semua itu hanya cobaan.

Setelah sekitar 10 hari, atas kebaikan majikan dia ( Teman saya itu manager di perusahaan bosnya itu) mengajak dia untuk berobat ke Singapore.

Selama diperjalanan ke singapore teman saya itu sempat pingsan 3 kali. dan keesokan harinya dia pergi ke Elisabeth Hospital, di sana dia juga di rongsen dan ditanayi apa keluahan2 nya.

Sebelum menjawab, teman saya menceritakan kronologi yang menimpanya di Indonesia.

Selang beberapa menit dokter menyarankan untuk general check up. Selang satu hari, setelah saya ambil hasil test nya saya menghadap ke dokter sekitar jam 10 pagi.

Anda bis atebak apa yang dokter di Singapore katakan????? Bahwa teman saya tersebut Sehat Walafiat.

Dokter itu menjamin 100% bahwa tidak ada tumor di kepalanya.

Akhirnya teman saya bisa sedikit bisa bernafas. Tidak sampai disitu, majikan teman saya masih ingin membawanya ke beberapa dokter specilist di singapore. Setelah seminggu di singapore semua dokter disana mengatakan sehat dan tidak ditemukan adanya kanker.

Teman saya juga tidak lupa membawa obat yang diberikan dokter dari Indo, untuk di tunjukkan ke dokter Singapore.

Apa kata dokter disana sungguh mengejutkan, kata teman aku dia disuruh berhenti meminum obat tersebut. Kenapa? Kata teman saya obat tersebut tidak malah membuat nya sembuh tapi membuat dia tambah stess.

Dari situ saya bisa merasakan apa yang dirasakan mbak prita dan teman saya sendiri.

Trims,

xxxx

20. redaksi - Juni 14, 2009

MATINYA KEBEBASAN BERPENDAPAT

Biarkanlah ada tawa, kegirangan, berbagi duka, tangis, kecemasan dan kesenangan… sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup udara dan menemukan jati dirinya…

itulah kata-kata indah buat RS OMNI Internasional Alam Sutera sebelum menjerat Prita dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik.

………………………………………………………………………………………….

Bila kita berkaca lagi kebelakang, sebenarnya pasal 310 KUHP adalah pasal warisan kolonial Belanda. Dengan membungkam seluruh seguruh teriakan, sang rezim penguasa menghajar kalangan yang menyatakan pendapat. Dengan kejam penguasa kolonial merampok kebebasan. tuduhan sengaja menyerang kehormatan, nama baik, kredibilitas menjadi ancaman, sehingga menimbulkan ketakutan kebebasan berpendapat.

Menjaga nama baik ,reputasi, integritas merupakan suatu keharusan, tapi alangkah lebih bijaksana bila pihak-pihak yang merasa terganggu lebih memperhatikan hak-hak orang lain dalam menyatakan pendapat.

Dalam kasus Prita Mulyasari, Rumah sakit Omni Internasional berperan sebagai pelayan kepentingan umum. Ketika pasien datang mengeluhjan pelayanan buruk pihak rumah sakit, tidak selayaknya segala kritikan yang ada dibungkam dan dibawah keranah hukum.

Kasus Prita Mulyasari adalah presiden buruk dalam pembunuhan kebebasan menyatakan pendapat.

21. imut girls gallery - Desember 11, 2009

saya uda baca dari awal telusur kasusnya.. ternyata prihatin banget. gak nyangka bisa kayak gitu… yang pasti saya tidak akan berobat di rumah sakit tsb.

22. Edwin The - Desember 24, 2009

Semua mendukung Prita,moga2 permasalahan ini terselesaikan dengan cepat dan baik,dan pihak rumah sakit harus bersyukur dan berterima kasih,bahwa dengan adanya kasus yang menimpa Prita,dapat sebagai wacana untuk mengubah lingkup manajemen RS yang bobrok agar dapat lebih baik dari sebelumnya,apalagi kalau bersekala Nasional dan Internasional.Prita pernah menyampaikan ke RS tsb dengan memberikan surat utk komplain namun pihak RS menulis hanya sebagai surat saran,lucu benar ya, Dikala sakit, dokter sebagai penyelamat manusia( Tugas Mulia ) ,dan bukannya menjadikan manusia sebagai ajang uji coba malpraktek dan lain sebagainya,karena manusia bukan binatang.

23. service komputer - Desember 27, 2009

Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya dari kasus mbak prita ini, bagaimanapun pahitnya.
Kekuasaan dan kesewenang2an tidak akan berdiri dengan mudah selama kita masih perduli terhadap sesama, terutama bagi orang-orang yang membutuhkan.

24. Corner Shelf - Desember 24, 2012

But if you don’t like the idea of online shopping, there are also massive online websites that allows you to print online coupons that you can bring to your favorite stores or shopping centers. Delhi, Chennai and Bangalore, have some genuinely impressive coaching centers, where faculties from various business schools offer training and guidance to students. Building a solar panel is considerably cheaper than buying a solar panel that is already made.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: