jump to navigation

produktif vs konsumtif Maret 16, 2009

Posted by ekojuli in management, PRIVATE.
trackback

CERITA KEUNGGULAN KAUM PERANTAU

Cerita ini oleh-oleh dari tenggarong, ibu kota kabupaten kutai kartanegara yang kaya raya.
hari minggu jalan-jalan ke tenggarong… sama mamanya anak-anak, sama anak-anak juga. ya lumayan lahh buat membuang penat kerja semingguan… lain kali saya akan cerita tentang kota tenggarong ini. kali ini saya justru bercerita tentang produktif vs konsumtif di tenggarong.

Kota kecil tenggarong saya lihat sekilas, mulai berkembang. mobil-mobil keluaran terbaru juga bersliweran dimana-mana. rumah-rumah gedung juga berdiri megah, sampai masuk ke dalam gang pun rumah gedung mentereng berdiri congkak di samping beberapa rumah sederhana.

Saya tidak ingin menyamaratakan, tapi dari penerawangan saya… kok kebanyakan mereka menggunakan mobil mewah, rumah gedung , didapat dari hasil penjualan warisan tanah, atau karena penggusuran proyek, atau kecipratan proyek, tapi ada juga yang memang dari hasil kegiatan ekonomi produktif.

Saya hanya khawatir kegiatan proyek besar-besaran di tenggaraong yang menghasilkan “orang kaya baru” dan membiasakan mereka bahkan membudayakan kegiatan konsumtif dan melupakan “pelatihan kegaitan produktif”. Mereka dan generasi penerusnya di buat berbangga diri dengan menggunakan peralatan dan barang-barang terbaru. Mereka lebih bangga membeli mobil baru daripada membuka warung makan misalnya. Anak mudanya juga lebih bangga , membeli handphone keluaran terbaru daripada membuka kios isi ulang pulsa.

Yang saya sukai di tenggarong sampai saat ini adalah budaya mereka masih kental budaya Kutai. bahasa yang dipergunakan sehari-haripun masih bahasa Kutai. Hal ini sangat berbeda dengan Samarinda (hanya 30 menit bermobil dari Tenggarong) yang sudah tidak lagi mempunyai bahasa “asli daerah”. Akhirnya kembali ke khawatiran saya diatas, bukan tidak mungkin suatu saat, tenggarong tidak lagi berbeda dengan samarinda, jika mereka tidak bersiap menghadapai pola konsumerisme mereka. Apa hubungannya pola konsumtif dengan budaya asli? ya jelas ada laaa, coba simak terus…

Uang seratus juta yang diterima oleh penduduk lokal dipergunakan unutk kegiatan konsumtif, dan melupakan (minimal tidak seimbang) dengan kegiatan produktif, mereka sampai kapan uang 100 juta itu bisa bertahan. misalnya dibelikan mobil??? paling-paling sampai anaknya saja yang bisa menikmatinya. syukur-syukur cucunya masih bisa nyicipin mobil yang sudah menjadi mobil tua ketika cucunya lahir.

Oleh pendatang, tanah hasil pembelian 100 juta tadi di buatlah toko kecil, berkembang menjadi toko besar, berkembang terus… berkembang…

Bisa ditebak… siapa yang akan survive?? pendatang…!!!

Lalu kemana para penduduk asli 10-20 tahun yang akan datang??? Akankan mereka menjadi kuli bagi para pendatang??? ayo…. bangkit sekarang!! berdayakan… Biarkan Tenggarong tetap menjadi pusat kota Kutai… Budayakan kegiatan Produktif…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: