jump to navigation

[mitos] KEPUHUNAN Mei 26, 2009

Posted by ekojuli in SEPUTAR BALIKPAPAN, UMUM.
trackback

[KEPUHUNAN]  Kepercayaan Lokal Kalimantan (Timur)

images

kaltim

Coba saya artikan sepengetahuan saya (CMIIW), KEPUHUNAN (dialek Banjar dibaca kepohonan) merupakan Folk Belief (mohon diluruskan jika salah) atau kepercayaan masyarakat lokal bahwa ketika seseorang ditawarkan makanan, sebaiknya pihak yang ditawarkan haruslah “nyantap” atau mencicipi secuil sedikit makanan yang ditawarkan tersebut. Jika tidak dilakukan orang, maka diyakini akan terjadi sesuatu yang buruk akan menimpa orang yang tidak nyantap tersebut. Sesuatu yang buruk yang dimaksud mungkin berupa kecelakaan, musibah, atau dihubungkan dengan gangguan atau “penampakan” makhluk halus.

Specially, makanan atau minuman yang sangat bertuah dan “wajib” disantap berupa ketan, nasi kuning, dan kopi. Tetapi menurut keyakinan lokal, tetap… hampir semua makanan bisa mengakibatkan “kepuhunan”. Pada prakteknya, penduduk lokal otomatis akan menawarkan makanan yang akan dia makan, dan yang ditawari “harus” nyantap (mencicipi) sedikit makanan yang ditawarkan tersebut. Jika makanan yang ada tersedia cukup banyak, jika kita suka, kita bisa mengambil sepotong dua atau yahhh… seperti bertamu biasanya…. Jika kita tidak ingin makan karena sesuatu hal, maka kita bisa “nyantap” saja. Misalnya si A sedang makan pisang goreng, didekatnya ada si B, maka sebelum menggigit si A akan menawarkan si B untuk “nyantap”. Maka si B akan mencuil sedikit (benar-benar secuil bahkan tidak akan terasa dilidah, karena hanya untuk menghindari kepuhunan tersebut) pisang goreng tersebut.

Kejadian unik, ketika saya pertama kali meginjakkan kaki di bumi Kalimantan, kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ketika dijemput teman di pelabuhan, saat itu teman saya sedang akan makan makan pisang goreng. Seperti biasanya sesuai kebiasaan, dia menawarkan saya untuk “nyantap” (maksudnya secuil aja), karena ketidaktahuan saya, tanpa dosa, saya ambil sepotong pisang goreng yang ada ditangan teman saya tersebut. Bagi saya waktu itu, saya menghargai, pemberian teman saya itu. Saya bahkan tidak sempat memperhatikan betapa terbengongnya teman saya, ketika saya mengambil sepotong pisang goreng yang ada ditangannya, yang seharusnya cuma “nyantap”. Saya tertawa lebar ketika sampai di rumah, teman saya dan keluarga bercerita tentang “kesalahan” saya tersebut…..

Masyarakat modern menilai hal ini sebagai tidak ilmiah, irrasional, atau tahyul. Meskipun kadang hal ini benar terjadi. Berkaitan dengan “kepuhunan” ini, suatu saat mertua saya bercerita tentang kecelakaan yang mengakibatkan vespa nya hancur, hingga mesinnya terbelah. Menurut dia, itu terjadi selepas pulang bertamu, disuguhi kopi, dan dia tidak “nyantap”. Maka terjadilah “kepuhunan” itu. Bahkan dia dengan penuh semangat menceritakan beberapa kejadian lain yang sejenis, yang berhubungan sengan “kepuhunan”

Sadar atau tidak sadar, kadang mitos dan kepercayaan masyarakat lokal, sarat akan kearifan lokal. Mengandung unsur-unsur keharmonisan antar sesama manusia dan manusia dengan alam lingkungannya. Saya menulis ini semata-mata hanya ingin “memotret” budaya kepercayaan masyarakat lokal Kalimantan Timur ( mungkin kalimantan selatan juga). Saya rasa tidak perlu dipertentangkan dengan nilai-nilai lain, biarlah budaya lokal ini menjadi kekayaan budaya nusantara.

Ada yang mau cerita tentang budaya atau folk belief yang lain?

Iklan

Komentar»

1. Noto - Mei 26, 2009

Hehehe….
Memang, kita mempunyai banyak budaya.

Saya juga sebagai orang pendatang, pernah mengalami hal serupa seperti anda.

2. feeds.bloggerpurworejo.com » [mitos] KEPUHUNAN - Mei 26, 2009

[…] [mitos] KEPUHUNAN Filed under: Uncategorized — @ 1:31 am […]

3. nina - Mei 27, 2009

Halo mas eko juli, makasih sudah mampir lagi ke tempat saya ^^ Sekarang tidak sesering dulu nulisnya, maklum anak-anak protes kalo saya lama-lama di depan komputer, hehehe…
Soal kepuhunan, saya punya cerita sendiri. Saya sebenarnya kelahiran Kaltim, ibu saya asli melak. Dan alm ayah asli Jogja. Akibatnya saya dan saudara relatif netral, tidak menganut salah satu adat kebiasaan secara mendalam. Apalagi mempercayai kepuhunan dan semacamnya 🙂
Setelah menikah, saya sering ketawa sedikit kesal kalo beberapa orang (termasuk keluarga suami) suka bilang ” Wah, suami di kalimantan ya, memang harus diikutin tuh. Hati-hati di Kalimantan banyak yang aneh-aneh…”
Belum tau kalo saya juga orang Kalimantan ya…hehehe!

oooo kalimantan jua to?? ok deh… makasih sudah berkunjung balik

4. Sri Utami - September 24, 2010

aslm,,
yupz.. bemer bgt mas..
saya yang asli kalimantan timur merasakan sekali mitos-mitos seperti itu..
kalo mau di gali lebih dalam banyak sekali pantangan2 yang tidak boleh dilakukan lainnya..
keluarga saya terutama masih mnganut mitos2 seperti itu..
yah hal seperti ini tdk perlulah qt perdebatkan..
percaya tidak percaya..tersugesti/tidak itu tergantung qt..
biar ini menjadi kekayaan budaya qt..

5. ardhyn - Februari 11, 2013

Hahahahahahaha 😀 sya asli org kaltim,tp sy 100% gak percaya ama namax kepuhunan.semua yg terjadi karna sudah menjadi takdir.yg sdh di perjanjikan sebelum kita lahir kedunia.bgi yg muslim jangan pernah percaya dg yg begituan..yg di takuti.hanya allah(swt) bukan KEPUHUNAN. 😀

6. ardhyn - Februari 11, 2013

Mampir di blog gua bro.maklum ru blajar buat blog.jd msih brantakan.mohon bantuanx dan komentarx jija mampir. 🙂

7. Hendra - April 17, 2014

Saya orang kalimantan saya keturunan dayak,,, ini bukan mitos tetapi benar adanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: