jump to navigation

[MICHAEL JACKSON] Give Thanks to Allah Juni 28, 2009

Posted by ekojuli in HOT NEWS, PRIVATE, YANG TERCECER.
Tags: , , , , , , ,
90 comments

Saya ngga akan membahas tentang meninggalnya Sang Superstar Pop ini. Saya yakin ribuan, bahkan mungkin trilyunan web udah membahas (lebayyyyyyy…)

Cuma ada yang tercecer yang coba saya mau upload Lagu Jacko setelah memeluk Islam: Give Thanks to Alloh Yukkk simak…

UPDATE (baru dapet)

lyrics:

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all.

Give thanks to Allah,
for the moon and the stars
prays in all day full,
what is and what was
take hold of your iman
dont givin to shaitan
oh you who believe please give thanks to Allah.
Allahu Ghafur Allahu Rahim Allahu yuhibul al Mohsinin,
huwa Khalikhun huwa Razikhun wahuha ala kulli shaiin khadir

Allah is Ghafur Allah is Rahim Allah is the one who loves the Muhsinin,
he is a creater, he is a sistainer and he is the one who has power over all

Note : Ada yang bilang Lagu Ini bukan Jacko yang nyanyi… Tapi Zain Bhikha… entahlah…

Update:

Video : Zain Bhikha – Give Thanks to Allah

UPDATE:

Comment of
Embun – Juli 3, 2009

Barusan hari ini, jam 08.15, di TVOne, VOA (Voice of America) berhasil mewawancarai jarak jauh via telp dengan Zain Bikha, dan ia mengklaim bahwa ini benar-benar lagunya, bukan lagu MJ. Adapun jika suaranya disamakan dengan MJ, justru ZB merasa tersanjung, namun tetap meyakinkan publik, bahwa ini adalah murni lagu Zain Bikha.

Daftar lagu pada CD nasheed:
http://www.kovideo.net/lyrics/z/Zain-Bhikha/Give-Thanks-To-Allah.html

Tanya Jawab Zain Bikha dengan jemaah di Mekah seputar lagu itu:
http://www.islamonline.net/livedialogue/english/Browse.asp?hGuestID=KIZbF1

Jadi sudah jelas, siapa yang menyanyikan lagu ini. Mungkin bisa sebagai koreksi terhadap judul posting diatas.

NASIONALISME VS PRINSIP EKONOMI Juni 27, 2009

Posted by ekojuli in business wisdom, PRIVATE, YANG TERCECER.
Tags: , , , , , , , , , ,
7 comments

Jalan-jalan ke Mall , window shopping… Sapa tau nemu barang yang dicari…. Berhubung tanggal tua, dompet juga mulai menipis… yahhh paling ngga cuci mata.

Gbr ilustrasi

Gbr ilustrasi

Di sudut salah satu Mall (“salah satu” apa satu-satunya??) di Balikpapan, terpampang tulisan mencolok… baju anak Rp. 10.000 harga pas. Liat-liat…!!! Ini baju import bisa dijual di Mall Rp. 10 ribu… modalnya berapa ya??? Tertulis made in china. Kualitasnya sih bagus (untuk ukuran low end). Jadi inget tadi liat-liat baju batik anak (buatan lokal). Di Mall juga… Cuma kualitasnya mmm… agak payah.. Ini sihh baju sekali pakai… Iks… Saya sih bukan termasuk orang yang ngerti kualitas baju… tapi sebagai orang awam, tetap aja bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang kurang bagus…. Untuk satu lembar baju batik kualitas pas-pasan harga tidak bisa kurang dari Rp. 15 ribu.

gbr hanya ilustrasi

gbr hanya ilustrasi

Disini letak Nasionalisme VS Prinsip Ekonomi…..

Kalau beli baju import dengan harga lebih murah… dibilang tidak Nasionalis… Katanya “Belilah Produk Indonesia”. Sementara Prinsip ekonomi yang berlaku Universal mengajarkan ” Beli dengan harga semurah-murahnya, jual lagi dengan untung sebesar-besarnya kalau bisa kualitas yang sebagus-bagusnya…”

Akhirnya belilah kami beberapa lembar baju anak Rp. 10rb… lumayan buat baju harian Diva…

Siapa yang menang???

Industri dalam negeri sudah di Bom sama barang import… Jelas kualitas kalah.. Harga apalagi….??? Jadi gimana??? PR deh buat pemerintah….

Jangan lagi masyarakat “dibebani”. Untuk membeli barang berkualitas kurang dengan harga lebih mahal.

Gimana Sob??? koment donggggggg…

SAMSAT VS PDAM BALIKPAPAN Juni 26, 2009

Posted by ekojuli in PRIVATE, SEPUTAR BALIKPAPAN, YANG TERCECER.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

Transparansi VS Intransparansi

Salut untuk SAMSAT Balikpapan

Kira-kira seminggu yang saya baru ngurus perpanjangan STNK 1 tahun. Sebetulnya ngga asing saya keluar masuk samsat balikpapan, karena beberapa urusan SNTK mobil kantor selalu saya urus sendiri. Baiklah, lanjut… begitu masuk, didepan terpasang tulisan besar tentang waktu yang diperlukan untuk pengurusan surat-surat kendaraan.

* Perpanjangan STNK 1 tahun : 30 Menit

* Perpangan STNK 5 tahun : 1 x 24 jam

dst….

Sebetulnya di instansi lainpun kadang ada juga tulisan macam begitu. Masalahnya kadang pelaksanaanya tidak seperti yang tertulis. Dan masyarakat maklum (atau dipaksa maklum). Padahal sadar atau tidak sadar meraka digaji oleh pajak yang dibayarakan masyarakat.

Masuk dipintu samsat tidak ada calo yang menawarkan jasa pengurusan. Masuk ke ruang ber-AC, langsung berhadapan dengan petugas bagian pembagian formulir pengurusan. tentu saja sebelumnya telah saya siapkan syarat-2nya. KTP dan fotocopynya, BPKB dan fotocopy-nya, STNK dan fc-nya. Dah…

Setelah isi berkas, langsung masuk ke petugas pemrosesan. tepat jam 10.05 Wita. Mendapat nomor antrian, langsung duduk manis menunggu di kursi yang disediakan. Di sana juga disediakan dispenser air minum… lumayan nyaman…

Di Lobby juga ada seorang perwira jaga (klu di perusahaan mungkin duty manager kali yaaa) yang siap membantu jika ada pengguna jasa yang kesulitan. Di meja penerima berkas tertulis, TIDAK DIPUNGUT BIAYA. Mhhh NICE..

jam 10.15 nomor antrian diapanggil untuk membayar pajak kendaraan bermotor. Dibayar tepat seperti yang tercetak dikuitansi pembayaran… Mhhh so far so good. no complaint…

jam 10.30, dipanggil lagi untuk mendapatkan STNK yang sudah diperpanjang 1 tahun.. Mhhh lebih cepat 5 menit dari yang mereka tetapkan.. 30 menit…

Salut untuk SAMSAT Balikpapan…

PELAYANAN PDAM TIDAK MEMUASKAN

Lain SAMSAT, lain juga PDAM Balikpapan. Rumah kami memang belum ada sambungan PDAM. Sempat “ngurus” ke PDAM, dan masuk daftar tunggu untuk pemasangan. Berapa lama? Entahlah… Jawab PDAM. Bisa 3 bulan… bisa empat bulan…

Di lingkungan saya (katanya) memang belum pipa induk untuk dipasang sambungan. Warga  sudah mendaftar untuk dipasang pipa induk. Katanya juga masuk daftar antrian. Entah kapan hendak dipasang.

Trz… klu mau cepat yang bayar 12 juta untuk sambungan pipa induk. Berapa biaya sebenarnya? Ya nggak tahu… Hanya PDAM dan Tuhannya saja kali yang tau… Tapi baiklah… kita ikuti permainannya… Warga beramai-ramai mengumpulkan dana untuk pasang pipa induk…

akhirnya… terpasang.. Sudah selesai? belummmm!!!

Kita masing menunggu antrian untuk memasang sambungan dari pipa induk ke rumah masing2. Konon… harus membayar 1,4 juta per rumah… OK!! (Sampai sekarang tidak  pernah tau juga berapa sebenarnya biaya bersambungan…) Baiklah, kami siapkan dana 1,4 juta untuk memasang. Kapan?? Lagi-lagi entah kapan… Bisa 3 bulan bisa empat bulan… (Gimana sih ini???)

Kabar terakhir… kalau beberapa warga mau mengumpulkan lagi masing-masing 300 ribu lagi tambahan dari yang 1,4 juta tadi.. maka seminggu juga udah ngalir… Lho???

PDAM, menurut saya kurang transparan… katanya nunggu antrian…( tapi di Kantor saya ngurus… hari ini bayar 3 juta besoknya langsung ngalir….!!!! Resmi PDAM…)

Bagaimana Pak Saufan (direktur PDAM  Balikpapan) ??? Bisa Berani lebih transparan PDAM???? Masa mau begitu terus… Udah ketinggalan jaman tuhhh… Bisa seperti SAMSAT??? (Lho gw udah ky bos aja merintah direktur??? eitttttttt ingat… Saya rakyat lohh…. darimana gaji kalian?? Pajak kami!!! berarti ber hak dong saya minta pelayanan lebih baik??)

Lagi lagi Pesawat TNI Jatuh… Juni 13, 2009

Posted by ekojuli in PRIVATE, UMUM, YANG TERCECER.
Tags: , , , , , , ,
6 comments

Perihatin….. entahlah harus berapa kali kata itu saya tulis di blog ini…. Rasa baru beberapa hari yang lalu saya nulis tentang pesawat TNI yang jatuh… ehhh awal Juni (8/06/2009) udah jatuh lagi….

Heli TNI Jatuh Senin, 8 Juni 2009 | 20:51 WIB CIANJUR, KOMPAS.com – Lima korban helikopter TNI AD jenis Bolkow BO105 bernomor HS7112 yang jatuh di Kampung Cibuni, Rawa Beber, Pagelaran, Cianjur, Senin (8/6) petang, dievakuasi. Dua penumpang yang tewas adalah Kolonel Ricky Samuel dan Kapten Agung. Sementara korban selamat dan menderita luka-luka adalah Lettu Hadi (pilot), Lettu Sasongko (co pilot) dan Letda Agus. Juru bicara TNI Angkatan Darat (AD) Brigjen TNI Christian Zebua mengatakan korban yang selamat akan dibawa ke rumah sakit terdekat dan yang meninggal dunia akan dibawa ke Jakarta. Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian sementara, kecelakaan terjadi disebabkan cuaca buruk berupa hujan lebat disertai angin cukup kencang. Helikopter yang membawa lima orang anggota Komandan Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) itu tengah menjalani misi dukungan latihan dari Pusat Pendidikan Batujajar menuju Cianjur. Christian mengatakan, kondisi helikopter naas itu rusak berat dan hingga kini dalam proses evakuasi. “Evakuasi korban dulu yang penting,” katanya. Helikopter NBO-105CB diproduksi oleh IPTN atas lisensi Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), Jerman. Selain digunakan untuk mendukung operasi tempur, heli ini juga kerap digunakan untuk evakuasi medis di medan perang. sumber: kompas

Saya memang males posting… karena udah terlalu sering begitu. Belum satu minggu eh lagi-lagi heli jatuh (12/06) di Lanud Atang Sanjaya. Sekarang saya posting krn saya merasa kok ya terlalunyaa…. “tiap minggu” pesawat jatuh…

Heli Jatuh Diikuti Dentuman Jum’at, 12 Juni 2009 | 17:28 WIB TEMPO Interaktif, Bogor: Suara dentuman keras terdengar ketika Helikopter Puma 3306 jatuh di Lapangan Udara Atang Sendjaja, Bogor. Menurut keterangan saksi di lokasi, sempat terdengar suara dentuman ketika pesawat jatuh. “Sempat terdengar dentuman,” Surahman, salah seorang warga sekitar, Bogor (13/11). Hingga saat ini enam unit mobil pemadam kebakaran masih berada di lokasi jatuhnya helikopter Puma 3306. Bangkai helikopter buatan tahun 1977 itu ditutupi terpal warna coklat. Di lokasi kejadian dipenuhi oleh pasukan TNI Angkatan Udara. Di rumah sakit TNI AU Atang Sendjaja juga disterilkan dari pengunjung umum. sumber: tempointeraktif

Sampe-sampe ada ungkapan… Nggak usah dipake buat Perang… Dilihatin aja Pesawat TNi ntar Jatuh Sendiri…. Joke sederhana yang cukup mengena saya kira… Saya ngga nulis banyak…. Sekedar Update Tulisan saya sebelumnya: JUARA KECELAKAAN PESAWAT

SIMPANG SIUR DUGAAN SUAP OMNI UNTUK KEJAKSAAN Juni 12, 2009

Posted by ekojuli in PRIVATE, UMUM, YANG TERCECER.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

Mengikuti berita Kasus Prita memang tidak ada habisnya….

Mulai dari, dipenjara karena curhat,

trz… Bagaimana Klu OMNI Menang di Pengadilan...???

trz… OMNI menuntut Pasien yang sudah Meninggal,

trz… Ada juga Surat Pembaca Lain untuk RS OMNI

Ini Aneh karena di Pasien… Tidak Meninggal di OMNI Tapi ditagih kamar Jenazah???

Pada 4 November 2008 kira-kira pukul 16.15 saya membawa anak saya ke RS Omni, Pulomas, Jakarta Timur, untuk mendapat perawatan di ruang UGD. Menurut pihak rumah sakit, anak saya mendapat serangan jantung akut. Setelah dirawat di UGD, anak saya disarankan pindah ke ruang ICCU. Tak lama kemudian, dokter menganjurkan agar anak saya dirujuk ke RS Harapan Kita untuk mendapat pengobatan lebih lanjut karena peralatan di RS Omni tidak lengkap.

Dengan segera abang saya berangkat ke RS Harapan Kita membawa hasil pemeriksaan RS Omni sekaligus memesan kamar. Pihak RS Harapan Kita menyebutkan supaya anak saya segera dibawa. Karena pihak RS Omni tidak dapat menyediakan ambulans dengan alasan sopir tidak ada, mereka menyarankan menggunakan Ambulans 118 dengan biaya Rp 200.000. Waktu itu di RS Omni ada tiga kendaraan milik rumah sakit tersebut yang sedang parkir.

Akibat tak ada pelayanan ambulans RS Omni, anak saya terlambat dibawa ke RS Harapan Kita. Beberapa jam menunggu Ambulans 118, anak saya, Daniel Wilbert Tambunan (27), drop dan meninggal dunia di RS Harapan Kita, empat jam kemudian.

Beberapa hari setelah itu, pihak RS Omni menagih biaya perawatan. Tak saya periksa satu per satu pada saat itu. Barulah saya lihat kemudian di sana tercantum biaya kamar jenazah Rp 25.000. Aneh betul. RS Omni tidak menyediakan ambulans untuk anak saya yang membutuhkannya, tapi menagih biaya kamar jenazah yang tak pernah dipergunakan anak saya. M Edyson Tambunan Jalan Nusa Cendana Blok C No 4 Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara

[ Sumber : kompas ]

trz… OMNI dilaporkan Malpraktek sebabkan Bayi Kembar Buta

trz… (terakhir) Dugaan Suap di Lingkungan Kejaksaan…

ulas dikit yang terakhir…. berita simpang siur…

atau memang sengaja dibikin simpang siur???

atau mereka “tidak baca naskah cerita” sehingga simpang siur???

entahlah….

lha… mana ulasannya????

ini lohh….

gw kutip-kutip aja beberapa pernyataan yang dilansir media…

Berkaitan dengan periksa medis gratis ini, pada Senin 8 Juni kemarin, Kapuspenkum Kejagung Jasman Pandjaitan mengakui bahwa jasa pemeriksaan gratis dari RS Omni yang berupa bakti sosial. sumber detik

kita telusuriii komentar dari OMNI:

Sedang RS Omni International Alam Sutra, Tangerang, melalui kuasa hukumnya Risma Situmorang pada Selasa 9 Juni kemarin membantah ada pemeriksaan gratis bagi Kejari Tangerang. Yang ada hanyalah fasilitas bagi PNS yang memiliki Asuransi Kesehatan (Askes) sumber: detik

lanjuttttttttttttttttttttttttttttttt

“Indikasi suap memang ada, tapi enggak bisa dibeberkan sekarang, bukti awal adanya fasilitas yang diberikan RS. Omni ke pihak kejaksaan,” kata kuasa hukum Prita, Slamet Yuwono, saat ditemui di Gedung Kejaksaan Agung Jakarta, (8/6) sumber : kompas di post ulang M Shodiq

siapa lagi yang komentar….??

Kejaksaan mengaku tidak bekerjasama dengan RS Omni International, Tangerang karena pelayanan kesehatan gratis RS itu merupakan kerjasama antara pemerintah dengan PT Askes. Karena itu Kejagung menganggap pelayanan itu bukan gratifikasi.

…..dst..

Sebelumnya Wakil Ketua KPK M Jasin mengungkapkan, fasilitas medis gratis yang diterima pejabat instansi pemerintah bisa dikategorikan gratifikasi bila tidak ada aturan yang menaunginya.sumber: yahoo.news

Jakarta – Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Jasman Panjaitan menegaskan, jaksa tidak boleh menerima fasilitas apa pun dari luar instansi. Dia juga membantah adanya kerjasama antara RS Omni dengan Kejari Tangerang untuk program pemeriksaan kesehatan.

Hal itu disampaikan Jasman di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2009).

Jasman juga membantah telah mengatakan jaksa-jaksa di Kejari Tangerang Banten menerima pelayanan kesehatan gratis dari RS Omni International.

Komentar Komisi Kejaksaan:

Pemberian Servis Gratis RS Langgar Kode Etik

Pemberian pelayanan kesehatan gratis oleh RS Omni Internasional bagi jaksa di Kejaksaan Negeri Tangerang tidak dibenarkan. Jika digunakan, berarti melanggar kode etik karena berpotensi mempengaruhi objektivitas penanganan perkara.

“Jaksa seperti juga pegawai negeri (PNS) tidak boleh menerima fasilitas gratis dari rumah sakit swasta,” kata Ketua Komisi Kejaksaan Amir Hasan Ketaren saat dihubungi detikcom, Selasa (9/6/2009).

Dikatakan Ketaren, penggunaan fasilitas rumah sakit hanya diperbolehkan bagi rumah sakit yang telah dirujuk oleh pemerintah dengan menggunaan kartu asuransi kesehatan. Jika fasilitas gratis dari rumah sakit swasta digunakan oleh jaksa termasuk melanggar kode etik kejaksaan.

“PNS kan ada terikat dengan PP 30, melanggar kode etik kalau menggunakannya dan bisa dikenakan sanksi,” jelasnya.

ICW:

Jakarta – Pemberian pelayanan secara gratis RS Omni International kepada jaksa di Kejaksaan Negeri Tangerang tidak hanya melanggar kode etik. Fasilitas yang disebut-sebut diberikan pada 18 Mei itu juga bisa dikategorikan sebagai gratifikasi. sumber: detik

jadi???

ini lohhh pengumuman yang memperkuat bau suap di kejaksaan…

Ini di Foto oleh Suami Prita…

4165583057-kejaksaan-pelayanan-gratis-rs-omni-bukan-gratifikasi

kurang jelas???

nih di tulis lagi:

‘DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH PEGAWAI KEJARI TANGERANG UNTUK MENGIKUTI MEDICAL CHECK UP DAN PAPSMEAR GRATIS!!!!!!!!!! DARI PETUGAS OMNI INTERNASIONAL HOSPITAL.

HARI : SENIN, 18 MEI 2009

PUKUL : 08.00 Wib s/d selesai

TEMPAT: AULA KEJAKSAAN NEGERI TANGERANG

DEMIKIAN UNTUK MENJADI CATATAN

AN KEPALA KEJAKSAAN NEGERI TANGERANG

+
kemana arah kasus ini…. Kita ikuti teruz… (bersambung kapan-kapan…)

+
+

OMNI BUKAN RUMAH SAKIT INTERNASIONAL Juni 6, 2009

Posted by ekojuli in PRIVATE, UMUM, YANG TERCECER.
Tags: , , , ,
4 comments

Ternyata teman-teman…..

Judulnya itu bener….Ibu Menkes yang bilang loh….

INI BERITANYA:
menkes

Menteri:
OMNI BUKAN RUMAH SAKIT INTERNASIONAL
Ditegur sejak Agustus tahun lalu.

JAKARTA – Rumah Sakit Omni International Alam Sutera, Serpong, Tangerang, bukan rumah sakit internasional. Menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Omni merupakan rumah sakit swasta dalam negeri yang tidak ada kepemilikan asingnya.

“Omni itu sebenarnya bukan rumah sakit internasional, hanya namanya,” kata Siti di Jakarta kemarin. Ia telah menegur rumah sakit tersebut sejak Agustus tahun lalu supaya tidak menggunakan kata “internasional” di belakangnya.

Menurut Siti, rumah sakit internasional di Indonesia ada tujuh, yang empat di antaranya berada di Jakarta, yakni Rumah Sakit Mitra Internasional, Rumah Sakit Permata Hijau, Rumah Sakit Brawijaya, dan Rumah Sakit Internasional Bintaro. Dua rumah sakit lainnya berada di Medan dan satu lagi di Surabaya.

Menurut Fadilah, pemberian izin terhadap rumah sakit internasional tidak mudah. Selama menjabat menteri sejak 2004, ia belum pernah mengizinkan Rumah Sakit Omni mencantumkan kata “internasional”. “Izin sudah ada sebelum saya menjabat. Pemberian nama itu, menurut saya, tidak betul,” katanya.

Rumah Sakit Omni saat ini memperkarakan pasiennya, Prita Mulyasari, karena dianggap mencemarkan nama baik dengan menyampaikan keluhan melalui e-mail kepada teman-temannya. Prita kemudian ditahan karena dianggap melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita sudah dikalahkan di Pengadilan Tangerang dalam kasus perdata dan sidang pidananya mulai digelar Kamis lalu.

Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Mulya Hasmi mengatakan perbedaan antara rumah sakit internasional dan rumah sakit non-internasional terletak pada kepemilikan modal asing. Namun, dari segi pelayanan kesehatan tidak ada perbedaan. “Standar pelayanan kesehatan sama saja, setiap dokter sudah ada SOP-nya,” kata Mulya.

Sebenarnya tidak ada sanksi khusus terhadap rumah sakit biasa yang menambahkan kata “internasional”. Namun, tindakan tersebut merupakan pembohongan publik, kata Mulya. Departemen Kesehatan–yang tidak bisa mencabut izin rumah sakit karena alasan itu–hanya akan mengeluarkan surat edaran kepada rumah sakit biasa yang menambahkan kata “internasional”.

Pihak Rumah Sakit Omni belum bisa dimintai konfirmasi. Presiden Direktur Sukendro dan Manajer Pemasaran Grace tidak mengangkat telepon saat dihubungi. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas.

Kuasa hukum Rumah Sakit Omni, Risma Situmorang, menolak memberikan keterangan mengenai komentar Menteri Kesehatan perihal penamaan “internasional” itu. “Kami hanya tangani permasalahan hukum,” katanya.

sumber: Koran Tempo

[RS OMNI] Jangan Harap Bisa Meninggal dengan Tenang di OMNI. Sembuh? Juni 6, 2009

Posted by ekojuli in PRIVATE, UMUM, YANG TERCECER.
Tags: , , , ,
6 comments

Ketawa, Kasihan, Aneh, Sedih, Terharu… Apalagi?

Liat di Koran, Baca Radio, Dengerin Tipi… OMNI Medical Centre Pulo Mas Jakarta Timur, RS Internsional )* menuntut Pasien yang sudah meninggal. Pasien sebenarnya mau membayar kalau RS OMNI memberikan medical record. Keluarga Pasien merasa janggal karena tidak diberitahu sakitnya pa… trz.. resepnya ganti2 terus…. Tabung Oksigen ganti setiap hari….

Kenapa OMNI ga pernah mau memberi rekam medisnya? Entahlah…. (jangan-jangan OMNI… mmm… takut ketahuan….) Takut ketahuan apa? Ya Ga tahu… tanya aja sama OMNI kenapa ga mau memberi rekam medis. Atau…. Sebenarnya ada ga sih rekam medis di OMNI???

Ini beritanya:

RS OMNI Juga Gugat Pasien Meninggal

Jum’at, 05 Juni 2009 | 09:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Gugatan Rumah Sakit Omni International terhadap pasien tak hanya terjadi pada Prita Mulyasari. Rumah Sakit Omni Medical Center, Pulomas, Jakarta Timur, juga menggugat perdata keluarga almarhum Abdullah Anggawie, pasien rumah sakit tersebut, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sidang gugatan itu dipimpin ketua majelis hakim Reno Listowo. Sedianya, sidang kemarin untuk mendengarkan putusan majelis hakim. Reno mengatakan menunda sidang hingga Senin (15 Juni) depan. “Mohon pengertiannya, karena ada pergantian majelis hakim,” kata Reno saat sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Abdullah Anggawie dirawat di rumah sakit Omni selama tiga bulan sejak 3 Mei 2007. Abdullah akhirnya meninggal pada 5 Agustus 2007. Omni menggugat karena keluarga pasien, yakni Tiem F. Anggawie dan Joeseof Faisal, dan pihak penjamin, yakni PT Sinar Supra Internasional, tidak memenuhi kewajibannya membayar tagihan sebesar total Rp 552,2 juta. Pihak keluarga memiliki kewajiban yang belum dibayar sebesar Rp 427,2 juta karena Rp 125 juta sudah disetor sebagai uang muka atau uang jaminan.

Gugatan terhadap pasien tersebut dilayangkan RS Omni pada 24 November 2008. Selain menuntut pembayaran sisa tagihan, Omni menuntut pembayaran bunga 6 persen per tahun dari total tagihan.

Sri Puji Astuti, kuasa hukum tergugat, membantah tudingan bahwa kliennya tak mau membayar kekurangan biaya rumah sakit tersebut. “Kami mau bayar, tapi kok rekam medisnya nggak dikasih, bagaimana mau bayar kalau rekam medisnya nggak ada,” kata Sri Puji Astuti seusai persidangan.

Menurut Sri, selama tiga bulan dirawat, keluarga pasien tidak pernah diberi tahu soal penyakit yang diderita almarhum. Bahkan, kata Sri, dokter memberikan resep obat yang berbeda setiap hari. Kejanggalan lain, tiap hari tabung oksigen juga diganti yang baru. “Padahal biasanya satu tabung itu untuk beberapa hari,” ujarnya.

Atas gugatan ini, kuasa hukum tergugat mengajukan gugatan balik ke Rumah Sakit Omni Medical Center sebesar Rp 5 miliar. Rumah sakit dinilai melakukan perbuatan melawan hukum dengan tidak memberikan informasi medis dan mengklarifikasi tagihan.

Para tergugat menilai tagihan penggugat tak wajar. Misalnya, dalam tagihan disebutkan penggugat melakukan cuci darah atau hemodialisis setiap hari mulai 19 hingga 31 Mei 2007. Selain itu, terjadi pergantian resep dokter tiap hari mulai 4 sampai 31 Mei. Padahal satu resep obat berlaku untuk jangka waktu tiga hingga enam hari.

Pihak Rumah Sakit Omni Medical Center enggan mengomentari kasus yang mengaitkannya dengan salah seorang pasien yang bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu.

“Nanti saja, Mas,” kata Risma Situmorang, kuasa hukum RS Omni Medical Center, melalui telepon kemarin. Berkali-kali Tempo mencoba menghubunginya lagi, namun tak pernah diangkat.

RS Internsional )*: MenKes: OMNI BUKAN RS Internasional

[SEPERTI PRITA] Ini Dia: Surat Pembaca yang Membuat Aseng Dituntut 1 Tahun Penjara Juni 6, 2009

Posted by ekojuli in UMUM, YANG TERCECER.
Tags: , , , ,
4 comments

Abiz nonton di Trans TV, sepertinya kasus tuntutan Perusahaan Besar dengan alasa nama baik akan terus ada. Seperti kasus Prita, sepertinya kasus Kho Seng Seng (Aseng) ini juga bakal menjadi perhatian publik.

Diberitakan, Karena keluhannya sebagai konsumen terhadap PT Duta Pertiwi, pengembang ITC Mangga Dua yang ditulisnya di surat pembaca juga dibungkam dengan Pasal Pencemaran Nama Baik. Bahkan atas tulisannya Kho Seng Seng dan Wini Kamis (04/06/09) kemarin, dituntut satu tahun penjara oleh PN Jakarta Timur.
Kho Seng Seng dan Wini didakwa telah melakukan pencemaran nama baik dan menfitnah PT Duta Pertiwi pengembang ITC Mangga Dua. Surat pembaca itu ditulis keduanya karena sebagai konsumen, mereka merasa ditipu PT Duta Pertiwi yang tidak pernah menerangkan secara jujur status tanah tempat berdirinya ITC Mangga Dua Jakarta Utara, bahwa tanah itu ternyata milik Pemprov DKI Jakarta, sehingga kios yang ditempatinya tidak bisa dimiliki sepenuhnya.

Mau tau bagaimana tulisan Kho Seng Seng, Ini dia:

Hati hati Beli Properti dari Duta Pertiwi / Sinar Mas Group

Saya Kho Seng Seng, saya adalah salah satu pembeli produk Sinar Mas Group (kios di ITC Mangga Dua) yang membangun BSD City. Saya tidak akan lagi mau membeli produk-produk Sinar Mas Group karena pengalaman saya dengan group ini sangat buruk.

Saya membeli property group ini melalui anak perusahaannya yaitu PT Duta Pertiwi Tbk sebuah kios di ITC Mangga Dua. Saya tidak membeli langsung ke PT Duta Pertiwi Tbk saya membeli melalui lelang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) tetapi sungguh sial ternyata tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta yang baru saya tahu ketika akan memperpanjang Hak Guna Bangunan (HGB) gedung ITC Mangga Dua.

Kemudian saya menanyakan ke kuasanya (karyawan Sinar Mas Group) yang didudukan sebagai ketua Perhimpunan Penghuni (PP) ITC Mangga Dua yang mana dari 3 dokumen yang saya miliki yang menunjukkan bahwa tanah di ITC Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta (3 dokumen yang saya miliki adalah Izin Mendirikan Bangunan, Akta Jual Beli dan Sertifikat Hak milik Satuan Rumah Susun)?. Kuasa perusahaan ini tidak bisa menjawab dia hanya mengatakan memang sejak awal sudah milik Pemprov DKI Jakarta.

Saya tidak puas dengan jawaban tersebut kemudian saya mengirimkan Surat Pembaca ke harian Kompas dan dimuat tanggal 26 September 2006 dengan judul “DUTA PERTIWI BOHONG” isinya kurang lebih menceritakan ketidak jujuran perusahaan ini waktu menjual produk propertynya dan saya menanyakan siapa yang mesti saya gugat ( Badan Pertanahan Nasional, Pemprov DKI Jakarta, PT Duta Pertiwi Tbk). Hampir 2 bulan kemudian saya juga mengirimkan surat pembaca ke harian Suara Pembaruan. Isinya mengenai denda Rp. 100.000-, per hari yang dikenakan ke pembeli kios-kios ITC Mangga Dua jika tidak mau membayar uang perpanjangan ke Pemprov DKI Jakarta. Yang mengancam denda ini adalah karyawan dari Sinar Mas Group yang didudukan sebagai pengurus Perhimpnan Penghuni ITC Mangga Dua Surat Pembaca ini dimuat tanggal 21 November 2006. Surat Pembaca saya di harian Kompas ini kemudian dibantah oleh pihak PT Duta Pertiwi Tbk dan Surat Pembaca saya di harian Suara Pembaruan dibantah oleh Divisi Real Estate Sinar Mas Group.

Tidak puas dengan bantahan ini Sinar Mas Group kemudian melaporkan saya ke MABES POLRI dengan dakwaan penghinaan, pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Saya dipanggil langsung sebagai TERSANGKA bukan saksi terlebih dahulu. Azas praduga tak bersalah tidak berlaku disini.

Tidak berhasil di MABES POLRI untuk menahan saya kemudian Sinar Mas Group ini menggugat saya di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Dasar gugatan adalah Surat Pembaca dan laporan polisi saya yang di hentikan peyidikannya (SP3) oleh Polda Metro Jaya (saya laporkan kasus dugaan penipuan oleh Sinar Mas Group ini ke Polda Metro Jaya pada tanggal 15 November 2006) . Nilai Gugatan ini Rp 17 miliar. Benar-benar luar biasa Sinar Mas Group ini dimana ingin menyita kios dan rumah orang tua saya.

Perusahaan yang patut diduga telah menipu kami ribuan konsumennya malah ingin menyita harta benda milik konsumennya. Apa kira-kira pendapat pembaca terhadap perusahaan Sinar Mas Group ini.

Disini saya katakan bukan saya saja yang dilaporkan ke Mabes Polri masih ada 2 orang lagi dimana kedua orang ini menulis surat pembaca mengenai produk property dari Sinar Mas Group ini yaitu Apartemen Mangga Dua Court dan ITC Roxy Mas. Kedua orang ini juga dilaporkan ke Mabes Polri sebagai TERSANGKA langsung sama seperti saya dan kedua orang ini juga digugat dengan nilai Rp 17 miliar dan Rp 11 miliar.

Bukan hanya kami bertiga yang digugat masih ada 16 orang lagi yang digugat. Ke 16 orang ini digugat karena laporan mereka ke Polda Metro Jaya yang dihentikan penyidikannya. Laporan ini mengenai tanah bersama yang mereka bersama-sama beli ternyata adalah tanah Pemprov DKI Jakarta. Jadi patut diduga Sinar Mas Group telah menipu kami semua. Mereka masing-masing digugat sebesar Rp 11 miliar – Rp 17 miliar. Gugatan di Pengadilan adalah gugatan perbuatan melawan hukum berkaitan penghinaan (pencemaran nama baik).

Yang saya tulis dalam surat pembaca dan laporkan ke Polda Metro Jaya adalah kenyataan yang saya dan ribuan konsumen lainnya alami bukan cerita bohong atau isapan jempol belaka. Inilah kenyataan yang kami alami sekarang, betapa hebatnya group perusahaan ini melakukan tindakan intimidasi kekonsumennya.

Beberapa bulan yang lalu ada komplain warga dari BSDCity mengenai atap rumah yang kayunya dimakan rayap melalui surat pembaca yang dimuat dibeberapa Media massa. Apakah Warga tersebut juga dilaporkan polisi dengan pasal pencemaran nama baik? Kami sebenarnya ingin tahu kelanjutan komplain warga tersebut tapi berhubung kami sendiri sekarang lagi sibuk menghadapi gugatan dan pemeriksaan di Mabes Polri kami tidak sempat mencari tahu kelanjutan komplain warga BSD City tersebut.

Bukan hanya komplain di BSD city yang saya baca di Surat Pembaca ada juga komplain dari

warga perumahan Banjar Wijaya yang juga dibangun oleh Sinar Mas group dan saya juga membaca di Surat Pembaca komplain pemegang polis asuransi Sinar Mas. Apakah semua orang yang mengkomplain ini dilaporkan ke pihak yang berwaajib dan digugat di Pengadilan Negeri?

Demikianlah pengalaman kami dengan Sinar Mas Group. Tidak ada maksud saya mendiskreditkan Sinar Mas Group ini tapi inilah yang terjadi sekarang dan tanah Pemprov DKI Jakarta yang dijual bukan hanya di ITC Mangga Dua tetapi hampir 30 hektar lahan di Mangga Dua Raya yang meliputi Wisma Eka Jiwa, Mall Mangga Dua, Ruko Bahan Bangunan, Ruko Tekstil, Dusit Mangga Dua dan Apartemen Mangga Dua Court. Serta setahu saya ada juga perkara tanah di BSD dengan seseorang yang bernama Bapak RUSLI dimana perkara ini sudah lebih dari 10 tahun belum selesai-selesai.

Inilah informasi yang saya dapat beritahukan kepada segenap pembaca sekalian semoga informasi ini berguna bagi segenap pembaca. Jadi BSD City atau Bintaro Jaya berpulang kembali ke segenap pembaca sekalian. untuk menentukan pilihan.

Saya telah menceritakan saya telah digugat oleh Sinar Mas Group mengenai kasus tanah di ITC Mangga Dua yang semula saya dan ribuan pembeli dari Sinar Mas Group yakini milik Sinar Mas Group dengan status HGB ternyata 18 tahun kemudian ketika akan diperpanjang HGB nya baru diketahui status tanah tersebut adalah HPL Pemprov DKI Jakarta dan saya kemudian diputus bersalah oleh Majelis Hakim yang mengadili saya dan Majelis Hakim ini menghukum saya harus membayar 1 miliar rupiah tunai ke pihak Sinar Mas Group

Dalam putusannya Majelis Hakim ini mengatakan saya telah melanggar hak subyektif penggugat (Sinar Mas Group) dengan menulis 2 buah surat pembaca di harian KOMPAS dan SUARA PEMBARUAN. Saya dikatakan telah menyerang kehormatan dan nama baik Sinar Mas Group. Padahal para saksi fakta yang saya datangkan ke persidangan dan memberi keterangan dibawah sumpah mengatakan bahwa apa yang tertulis dalam surat pembaca saya adalah fakta kejadian yang mereka alami dan ribuan pemilik property yang membeli dari Sinar Mas Group. Jadi surat pembaca saya bukan merupakan fitnah tapi kenyataan yang saya dan ribuan pembeli property Sinar Mas Group alami. Apakah menurut para pembaca menceritakan apa yang terjadi dan dialami ribuan konsumen dalam surat pembaca merupakan suatu penghinaan? Apa yang saya tulis dalam surat pembaca saya semua ada bukti tertulisnya dan saya sudah ajukan didepan sidang tetapi Majelis Hakim yang mengadili saya sama sekali tidak mempertimbangkan bukti-bukti dan saksi-saksi saya. Bukti yang saya masukan adalah bukti autentik yaitu IMB, AJB dan Sertifikat Hak Milik Satuan Rumah Susun yang tidak ada sama sekali keterangan mengenai HPL Pemprov DKI Jakarta. Dan menurut Pakar Hukum Agraria yang menyusun UUPA 1960 bapak Prof Boedi Harsono guru besar Trisakti sertifikat yang saya tunjukan pada beliau, beliau mengatakan sertifikat ini status tanahnya adalah HGB diatas tanah negara bukan diatas HPL karena tidak ada data mengenai HPL didalam sertifikat saya.

Jika ditanyakan ke pembeli-pembeli asli property Sinar Mas Group di area Mangga Dua apakah Sinar Mas Group mempunyai kehormatan dan nama baik, saya yakin sekali jawabannya tidak. Kenapa saya katakan tidak karena sekarang ribuan pembeli ini merasa mereka telah dicurangi pada waktu membeli property Sinar Mas Group ini dimana tidak diberitahu mengenai status tanah yang HPL Pemprov DKI Jakarta diarea Mangga Dua pada saat membeli property Sinar Mas Group ini. Jika mereka diberitahu kemungkinan ada dua mereka tetap membeli tetapi dengan harga murah karena tanahnya bukan milik developer atau tidak membeli sama sekali.

Di blog ini saya hanya ingin sharing dengan pembaca untuk bersikap lebih berhati-hati jika ingin berhubungan dengan Sinar Mas Group, jangan sampai mengalami hal seperti yang saya alami, komplain produknya melalui karyawannya tidak dilayani kemudian saya menulis surat pembaca yang akhirnya saya dilaporkan ke Mabes Polri (posisi Sinar Mas Group lebih hebat dari Presiden RI dimana ketika Presiden diduga dicemarkan nama baiknya hanya melapor ke Polda sedang saya dilaporkan ke Mabes) dan digugat di pengadilan negeri Jakarta Utara..

Apa yang saya ceritakan disini adalah kisah nyata saya menghadapi konglomerat nomer 3 di Indonesia yang sangat tidak tersentuh hukum karena laporan saya dan rekan-rekan saya ke Polda mengenai dugaan penipuan yang kemudian di SP3 kan dimana dasar SP3 inilah teman-teman saya juga digugat di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan beruntung semua rekan saya dibebaskan hanya saya dan satu teman saya saja yang dikalahkan. Yang mengalahkan saya dan teman saya ini satu Majelis Hakim. Majelis Hakim ini menangani perkara saya dan teman saya sedang 14 perkara yang lain (16 orang digugat, ada 16 gugatan) diputus bebas oleh Majelis-majelis Hakim yang berbeda-beda.

Demikian akhir kasus saya digugat Sinar Mas Group atas dasar surat pembaca yang saya kirim ke 2 media nasional yang mengakibatkan saya dihukum untuk membayar tunai 1 miliar rupiah

Sebenarnya ada 19 gugatan yang dilakukan oleh Sinar Mas Group. Salah satunya adalah saya. Sedang 18 gugatan dibuat oleh Sinar Mas Group karena ke 18 orang ini masing-masing melapor ke Polda Metro Jaya karena tidak ada itikad baik dari Sinar Mas Group untuk duduk bersama menyelesaikan kasus yang patut kami duga telah menipu kami dengan cara menyembunyikan informasi mengenai tanah bersama ITC Mangga Dua pada saat menjual satuan rumah susun ITC Mangga Dua dimana sekitar 16 tahun kemudian baru diberitahu bahwa apa yang dibeli konsumennya 16 tahun yang lalu yang berupa tanah dan bangunan ternyata tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua adalah milik (dalam penguasaan) Pemprov DKI Jakarta dengan status hak atas tanah HPL Pemprov DKI Jakarta. Kami menyatakan kami memebli tanah dan bangunan karena Sinar Mas Group sendiri telah memberikan pada kami Faktur Pajak sederhana yang menerangkan pembayaran atas Tanah dan pembayaran atas Bangunan serta PPN atas Tanah dan PPN atas Bangunan. Hal inilah yang kemudian kami laporkan ke Polda Metro Jaya dimana oleh pihak Polda kemudian dinyatakan ini kasus dugaan penipuan. Yang pertama menyatakan ini dugaan penipuan adalah Polda Metro Jaya. Polda menyatakan dugaan penipuan karena penerima laporan kami melihat dan membaca dokumen yang kami bawa berupa Izin Mendirikan Bangunan, Akta Jual Beli, Sertifikat Hak Milik Satuan Rumah Susun dan Faktur Pajak Sederhana yang dikeluarkan Sinar Mas Group yang tidak ada satupun data yang menerangkan bahwa tanah tempat berdirinya gedung ITC Mangga Dua milik Pemprov DKI Jakarta. Kesemua dokumen ini kemudian kami berikan dan serahkan sebagai barang bukti ke pihak Polda.

Sungguh tidak saya duga kemudian pihak Polda menghentikan penyidikan kasus kami (SP3). Dan dengan dasar SP3 ini kemudian Sinar Mas Group menggugat kami yang melaporkan kasus dugaan penipuan ini dimana kami digugat dengan gugatan perbuatan melawan hukum berkaitan dengan penghinaan (pencemaran nama baik). Nilai gugatan ini antara 11 miliar sampai 17 miliar rupiah. Total nilai gugatan adalah 232 milar rupiah (19 gugatan).

Sangking takutnya akan disita jamin tempat berdagang dan rumahnya, 3 orang dari kami akhirnya dengan sangat terpaksa menandatangani akta perdamaian yang saya nilai sangat sepihak tanpa ada timbal balik buat tiga orang yang menyatakan damai ini.

Adapun isi dari akta perdamaian ini kurang lebih adalah sbb:
– mengakui bahwa tanah ITC Mangga Dua memang sudah sejak dari awal diberitahu tanah Pemprov DKI Jakarta dengan status HPL
– Mengaku bersalah dan bersedia menyatakan permohonan maaf dikoran.
– Tidak boleh ikut teman-teman Fifi Tanang
– Jika melanggar salah satu diatas bersedia membayar 5 miliar dan dituntut secara perdata dan pidana.

Isi akta perdamaian ini saya ketahui karena akta perdamaian ini digunakan sebagai bukti di pengadilan bahwa memang kami mencemarkan nama baik Sinar Mas Group ini. Menurut saya ini sangat aneh karena ke 3 orang ini sendiri melapor ke Polda bahwa tanah nya tidak ada lagi sekarang yang berstatus Hak Guna Bangunan tetapi sekarang menjadi HPL, tapi di akta perdamaiannya menyatakan ini mereka sudah sejak dari awal mengetahui. Coba dibayangkan kalau mereka sudah tahu sejak dari awal HPL buat apa mereka susah-susah melapor ke Polda ini tentu ada sesuatu yang tidak beres dan lagi apa yang mereka dapatkan pada waktu menandatangani akta ini? Tidak ada keuntungan sama sekali buat 3 teman saya yang menandatangani akta ini.

Sedang ke 16 orang yang lain (termasuk saya) tetap melakukan perlawanan dan pada bulan Maret sampai Juni 2008 akhirnya diputus pengadilan Jakarta Utara. Empat belas putusan memenangkan kami hanya dua putusan yang mengalahkan kami. Dan yang mengalahkan kami hanya satu Majelis Hakim. Majelis Hakim ini menangani perkara saya dan satu perkara teman saya. Saya dan teman saya, masing-masing dihukum 1 miliar dengan pertimbangan hukum yang ngawur dimana putusannya telah melanggar hukum acara perdata dan Undang-undang Pers.

Saya menggunakan pengacara dari LBH Pers untuk membela saya dan teman saya dibela dari kantor Hukum Tarigan, Faridz & Partners. LBH Pers menangani dua kasus kami sedang Tarigan, Faridz & Partners menangani 9 kasus. Pengacara LBH Pers memenangkan satu gugatan teman saya yang digugat 11 miliar. Jawaban, duplik, bukti, saksi dan kesimpulan yang dibuat hampir sama seperti yang dibuat untuk saya. Saya dikalahkan kerena Majelis Hakim yang menangani saya tidak sama seperti Majelis Hakim yang menangani perkara teman saya. Begitu pula seperti kantor hukum Tarigan, Faridz & Partners yang menangani 9 kasus hanya kalah satu dan yang kalah itu Majelis Hakim nya sama seperti Majelis Hakim yang mengadili saya. Jadi satu Majelis Hakim ini menangani 2 perkara dimana kedua perkara tersebut telah memenangkan Sinar Mas Group.

Kami masih beruntung karena tidak semua Majelis Hakim bertindak seperti Majelis Hakim yang mengalahkan kami karena didalam persidangan dan didalam gugatannya Sinar Mas group mendalilkan kerugian akibat dari laporan polisi dan Surat Pembaca saya dan teman saya. Dalil yang menyatakan Sinar Mas Group rugi tidak bisa dibuktikan didalam persidangan dan dalil kami mencemarkan nama baik melalui Surat Pembaca juga tidak bisa dibuktikan didalam persidangan bahkan kamilah yang bisa membuktikan bahwa kami telah menderita kerugian akibat dari tanah yang baru kami ketahui milik Pemprov DKI Jakarta dan kami juga membuktikan dipersidangan melalui saksi fakta kami yang memberikan keterangan dibawah sumpah bahwa apa yang kami tulis didalam surat pembaca adalah fakta kejadian bukan fitnah yang sekarang dialami ribuan konsumen Sinar Mas Group di area Mangga Dua. Tetapi semua keterangan yang diberikan baik saksi fakta kami maupun saksi ahli yang kami datangkan dari Dewan Pers sama sekali tidak dianggap oleh Majelis Hakim yang mengadili perkara saya dan teman saya.

Saya dikalahkan oleh Majelis Hakim karena potongan-potongan kalimat yaitu yang diharian Kompas adalah judul surat Pembaca ‘Duta Pertiwi Bohong’ sedang di Suara Pembaruan adalah kalimat ‘Pemikiran saya, ini penipuan dan sudah saya laporkan ke Polda dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan’. padahal kedua potongan kalimat diatas tidak ada dalam surat pembaca asli saya (redaksi sudah menkoreksi tulisan saya)

Jadi tidak perlulah saya mencari pengacara yang lebih baik dan berintegritas karena pengacara saya dari LBH Pers dan pengacara teman saya yang juga dikalahkan sudah baik dan berintegritas tinggi dan pengacara saya ini dijamin bebas suap dan dijamin tidak menginjak didua tempat hanya yang perlu diperhatikan adalah Majelis Hakim yang mengadili perkara.

Sehebat apapun pengacara dan sesempurna apapun bukti serta saksi yang diajukan ke persidangan yang menentukan kemenangan bukan bukti, saksi dan pengacara tetapi Majelis Hakim lah yang menentukan kemenangan. Jika Majelis Hakim berpendapat bersebrangan dengan pengacara maka dikalahkanlah pengacara tersebut.

Hal ini juga sudah saya uraikan pada pengacara saya dan pengacara teman saya dan mereka juga sudah tahu. Orang-orang diluar lingkungan kami mungkin beranggapan karena saya kalah berarti pengacara kami tidak kualifait. Pemikiran ini salah besar menurut saya (saya hampir setiap hari ke pengadilan selama setaun dari senen sampai kamis mengikuti sidang pengadilan kami digugat, 16 gugatan). Walaupun kami kalah bukan berarti pengacara kami bodoh tetapi kekalahan kami tidak ada hubungan dengan pengacara kami karena kekalahan kami disebabkan ada faktor x nya.

Saya juga sudah ke YLKI tetapi karena ini sudah memasuki ranah hukum maka dikatakan YLKI tidak bisa membantu saya.

Dan saya ucapakan selamat pada Sinar Mas Group yang dengan segala cara ingin membungkam saya tetapi belum berhasil membungkam saya walaupun sekarang saya mengalami kekalahan di pengadilan negeri Jakarta Utara. Saya sudah melaporkan putusan pengadilan negeri ini ke instansi-instansi pemerintah untuk mengevaluasi putusan ini karena didalam pertimbangan hukum Majelis Hakim yang mengadili saya bukti-bukti dan saksi-saksi saya dikatakan tidak menyangkal gugatan penggugat. Padahal secara jelas saksi saya menyatakan apa yang saya tulis bukan fitnah dan yang bertanggungjawab terhadap tulisan pembaca saya adalah penanggung jawab pers bukan penulis surat pembaca karena surat pembaca ini bisa dikoreksi oleh redaksi.

Demikian tambahan informasi yang bisa saya berikan dan saya sekarang lagi menunggu proses banding saya. Dan yang sebenarnya dihina (difitnah/dicemarkan nama baiknya) adalah saya bukan Sinar Mas Group karena dalam persidangan saya telah membuktikan tulisan surat pembaca saya sedang Sinar Mas Group tidak bisa membuktikan bahwa tulisan didalam surat pembaca saya adalah fitnah.

Saya sekarang sedang membuat memori banding. Semoga keadilan masih berpihak pada kebenaran. Inilah kisah nyata saya mencari setitik keadilan dimana kasus kenyataan tanah tempat kios saya berada adalah milik Pemprov DKI Jakarta yang sudah saya gugat juga di pengadilan negeri Jakarta Utara yang sialnya perkara saya menggugat Sinar Mas Group ditangani oleh Majelis Hakim yang memutus dan menghukum saya 1 miliar rupiah. Jadi Majelis Hakim ini menangani 3 perkara dua perkara kami digugat satu perkara kami menggugat dan seperti yang sudah saya uraikan diatas dua perkara sudah dikalahkan. Apakah perkara kami menggugat Sinar mas Group bisa dimenangkan?

Kasus saya bukan kesalahan BPPN tetapi ini murni patut diduga pekerjaan Sinar Mas Group karena ini merupakan produk property Sinar Mas group dimana ada ribuan konsumen yang membeli langsung ke Sinar Mas Group juga mengalami hal yang sama seperti saya. Jadi disini jelas terlihat bukan BPPN yang membuat ini bermasalah tetapi memang patut diduga sudah sejak dari awal ini diset oleh Sinar Mas Group. Seperti yang saya ungkap dalam tulisan terdahulu ada dua kemungkinan yang akan dilakukan konsumen jika Sinar Mas Group memberitahu bahwa tanah tempat property yang dibangunnya adalah milik pihak ke tiga bukan murni miliknya yaitu membeli dengan harga murah (karena hanya membeli petak-petak kios yang dingding-dingdingnya dibatasi gypsum tanpa ada tanah bersama) atau tidak membeli sama sekali property ini.

Disini saya tambahkan informasi lagi teman saya sudah menggugat Sinar Mas Group ini tapi gugatan teman saya ditolak didalam putusannya dikatakan kurang lebih kami lah yang ceroboh karena didalam sertifikat HMSRS ITC Mangga Dua katanya sudah ada keterangan mengenai kepemilikan tanah Pemprov DKI Jakarta ini dan kesaksian saya bersama 3 rekan saya mengenai kerugian akibat tanah yang kami ketahui belakangan dianggap tidak sah karena dikatakan kami telah menggugat dalam kasus yang sama diperkara yang lain (yang melakukan gugatan diperkara yang lain untuk kasus yang sama ini hanya saya dan satu teman saya yang lain, jadi masih ada dua teman saya yang lain yang tidak melakukan gugatan tetapi keterangan 2 teman saya yang tidak menggugat ini juga ikut dikatakan tidak sah).

Yang menangani kasus teman saya ini adalah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang nota bene seharusnya memutus secara bijak tetapi putusannya menurut saya sangat tidak adil, hampir sama seperti Majelis Hakim yang memutus saya bersalah dimana segala bukti dan saksi yang diajukan teman saya sama sekali tidak dipertimbangkan bahkan keterangan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang menyatakan tidak tahu bahwa tanah di ITC Mangga Dua adalah milik(dalam penguasaan) Pemprov DKI Jakarta tidak dipertimbangkan. Coba kita pikirkan bersama PPAT saja tidak tahu apa lagi kita sebagai pembeli yang awam mengenai surat-surat tanah dan bisa saya tambahkan juga disini, pejabat Badan Pertanahan Nasonal (BPN) juga tidak tahu tanah ITC Mangga Dua milik Pemprov DKI Jakarta (ini dapat dibuktikan dengan tidak membayarnya teman saya biaya rekomendasi pada saat teman saya ini membeli HMSRS nya dimana seharusnya teman saya ini membayar biaya rekomendasi sesuai dengan SK Gubernur no 122 tahun 2001 bab V pasal 7 mengenai uang pemasukan terhadap tanah-tanah dalam penguasaan Pemprov DKI Jakarta). Kedua pejabat ini saja (PPAT dan BPN) tidak tahu apa teman saya bisa lebih hebat dari kedua pejabat ini yang tiap hari menangani surat-surat pertanahan dan jika teman saya orang yang ceroboh lalu bagaimana dengan kedua pejabat yang berwenang ini, apa kedua pejabat ini tidak lebih-lebih hebat cerobohnya dari teman saya? Karena dokumen berupa sertifikat HMSRS ini sudah melalui verifikasi dua pejabat yang ahli dalam pertanahan ini dimana kedua pejabat ini juga tidak tahu bahwa tanah di Mangga Dua adalah milik Pemprov DKI Jakarta seperti yang saya uraikan diatas.
sumber: koc2

BISA NGERASAIN TOP POST DI WORDPRESS… Juni 5, 2009

Posted by ekojuli in PRIVATE, SEPUTAR BALIKPAPAN, YANG TERCECER.
Tags: , , , , ,
3 comments

Wekekek…. ketawa dulu….

Saya yakin bagi anda, hal ini sudah biasa…tapi saia sebagai Nyu-bie… wahhh bangga juga bisa nangkring di di blog terhangat dan tulisan terhangat -nya WordPress

top post1

Narsis banget sih… Cuman nangkring di dashboard WordPress saja di post…. halah

wes ben ae wes…!!!

RIFQI: Mengapa FUN dibaca FAN??? Juni 5, 2009

Posted by ekojuli in parenting, PRIVATE, YANG TERCECER.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Iklan Tipi:  “Ketik REG <spasi> FUN kirim ke 9**7 “

Melihat Iklan  disela-sela acara Sponges Bob-  kesukaan Rifqi (5 tahun)-, tiba-tiba dia bertanya: “Kenapa FUN kok dia naca FAN, ga salah tuh Yah?”

Susah payah saya jelaskan, “Nak, itu bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris kadang tulisan dibaca berbeda. Seperti FUN tadi….”

Rifqi mengangguk meskipun saya yakin dia tidak puas dengan jawaban saya. Saya justru senang jika dia tidak puas dengan jawaban saya. Berarti? Dia harus belajar bahasa Inggris… cepat atau lambat… Tapi tidak ada satu katapun terlempar dari mulut saya menyuruh dia harus belajar bahasa Inggris. Saya lebih suka dia penasaran dan mencari tau sendiri apa dan bagaimana bahasa Inggris. Begitu juga pengetahuan umum lainnya. Bukannya “serta merta” kita kursuskan bahasa Inggris tanpa cari tau apakah dia pengen tau atau tidak…

Masih terjadi perdebatan mulai umur berapa seseorang belajar bahasa Inggris (bahasa asing)?

Sedikit cerita, Suatu hari mamanya bercerita ketemu anak kecil yang hebat bener bahasa Inggrisnya… Pinter sekali anak itu… Benarkah?

Tentu saja membanggakan jika punya anak (masih kecil) sudah bisa Bahasa Inggris.  Tapi apakah jika anak (masih kecil) bisa bahasa Inggris sudah pasti pintar (cerdas) ?? Jawab saya belum tentu…!!!! Lihat… di Inggris semua anak kecil sudah bisa bahasa Inggris tidak peduli dia cerdas atau tidak cerdas… bahkan tanpa kursus!!! Jadi? Bagi saya Bahasa adalah Kebiasaan. Saya lahir dan besar di Jawa Tengah, saya bisa bahasa Sunda walaupun tanpa pernah kursus bahasa Sunda. Karena saya pernah tinggal di Bandung 5 tahun. Ya iyaaa laaa…

Maaf, bukannya sinis karena anak saya tidak belum bisa Bahasa Inggris  ( wong bapaknya aja bahasa Inggris setengah2…). Bagi saya, tetap jauh lebih penting bahasa Ibu.  Memahami benar bahasa ibu sebagai sarana komunikasi untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Sehingga dia tidak rancu…. Jauh lebih penting “isi” ilmu pengetahuannya, dan bagaimana cara mendapatkan pengetahuannya.  Dan bagaiamana supaya anak terus terpacu untuk mencari pengetahuan.  Masalah dia bisa bahasa asing anggaplah bonus (tanpa harus memaksa dia untuk “harus” bisa)

Pada dasarnya sih anak memang selalu ingin tahu.  Yang penting kita mengawal keingintauannya tidak dikebiri dan supaya tidak menyimpang dari norma yang berlaku, sehingga bisa berkembang secara positif.

Allahu’alam