jump to navigation

NASIONALISME VS PRINSIP EKONOMI Juni 27, 2009

Posted by ekojuli in business wisdom, PRIVATE, YANG TERCECER.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

Jalan-jalan ke Mall , window shopping… Sapa tau nemu barang yang dicari…. Berhubung tanggal tua, dompet juga mulai menipis… yahhh paling ngga cuci mata.

Gbr ilustrasi

Gbr ilustrasi

Di sudut salah satu Mall (“salah satu” apa satu-satunya??) di Balikpapan, terpampang tulisan mencolok… baju anak Rp. 10.000 harga pas. Liat-liat…!!! Ini baju import bisa dijual di Mall Rp. 10 ribu… modalnya berapa ya??? Tertulis made in china. Kualitasnya sih bagus (untuk ukuran low end). Jadi inget tadi liat-liat baju batik anak (buatan lokal). Di Mall juga… Cuma kualitasnya mmm… agak payah.. Ini sihh baju sekali pakai… Iks… Saya sih bukan termasuk orang yang ngerti kualitas baju… tapi sebagai orang awam, tetap aja bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang kurang bagus…. Untuk satu lembar baju batik kualitas pas-pasan harga tidak bisa kurang dari Rp. 15 ribu.

gbr hanya ilustrasi

gbr hanya ilustrasi

Disini letak Nasionalisme VS Prinsip Ekonomi…..

Kalau beli baju import dengan harga lebih murah… dibilang tidak Nasionalis… Katanya “Belilah Produk Indonesia”. Sementara Prinsip ekonomi yang berlaku Universal mengajarkan ” Beli dengan harga semurah-murahnya, jual lagi dengan untung sebesar-besarnya kalau bisa kualitas yang sebagus-bagusnya…”

Akhirnya belilah kami beberapa lembar baju anak Rp. 10rb… lumayan buat baju harian Diva…

Siapa yang menang???

Industri dalam negeri sudah di Bom sama barang import… Jelas kualitas kalah.. Harga apalagi….??? Jadi gimana??? PR deh buat pemerintah….

Jangan lagi masyarakat “dibebani”. Untuk membeli barang berkualitas kurang dengan harga lebih mahal.

Gimana Sob??? koment donggggggg…

Iklan

Komentar»

1. feeds.bloggerpurworejo.com » NASIONALISME VS PRINSIP EKONOMI - Juni 27, 2009

[…] NASIONALISME VS PRINSIP EKONOMI Filed under: Uncategorized — @ 2:26 am […]

2. yuanarose - Juni 27, 2009

ga akan bisa terjawab karena bukan pilihan…karena kita sudah masuk ke dalam sistem ekonomi liberal-kapitalis.bukankah begitu?

entahlah…

3. yuanarose - Juni 27, 2009

Iya dunk…prinsip ekonomi qt condong kmn tuh kira2…
Penawaran:jika qt pakai prinsip ekonomi Islam…harta semua kita zakati, kan ga ada orang miskin sekali…karena bahaya jk ada yang kaya kaya sekali dan si miskin miskin sekali, bgmn yg kaya bs jualan jk yg lain don’ payment

wah seru nih… klu pengamat mulai koment… wekekek….
setuju sist… sistem ekonomi islam

menurut ane nih… (sekali lagi menurut ane)… yang mendasar diperbaiki… coba indonesia berani ga mengganti uang kertas menjadi uang berdasar emas (kaya dinnar getoooo)…. wehhh ntar kapan2 kita posting lagi masalah nni…

4. nusantaraku - Juni 27, 2009

Harga antara tekstil China dan Bandung memang ada disparitas. Jika kita mengamati salah satu tulisan James Kynge yang hampir 10 tahun mengamati perkembangan ekonomi China, maka ada satu hal yang menarik yang perlu kita cermati : harga listrik dan air di China didesain murah sedemikian rupa untuk home industri.
Dan sebenarnya, harga tekstil di Bandung tidak terlalu jauh berbeda. Saya beli Jaket buatan Bandung, harganya cuman 45.000. Kemeja Rp 20.000. Saya beli langsung grosir dekat pabrik.
Jadi, salah satu yang membuat mahal adalah jalur distribusi.
Ini yang harusnya dapat dipangkas,sehingga produk kita bisa bersaing dengan produk China.

great analisys…

5. Dian Heri - Juni 29, 2009

Menarik sekali Mas tulisannya…
Saya setuju dengan tulisan ‘nsuantaraku’, kita masih kesulitan menekan biaya produksi, sementara China sangat supported dengan listrik dan air yang demikian adanya…
Kalau saya pribadi, untuk produk dan skala-skala tertentu, saya usahakan sedapat mungkin memilih produk dalam negeri. Karena itu juga yang dilakukan orang-orang China dan Jepang dengan produk mereka…
Semoga para produsen kita juga membaca tulisan Mas di blog ini ya, supaya mereka semakin meningkatkan kualitas produknya, ha ha ha…

iya bro… ayo bangkit indonesia

6. Stop Dreaming - Juli 6, 2009

hidup indonesia..

7. ahmad f - Juli 15, 2009

sya kira yang buat mahal ..itu adalah pungutan liarnya.. apakah itu yg dialami pemilik mall ..yg dialami pabrik bajunya ..yg dialami penjualna …dsb..dsb.. ujung dari semua itu.. yg menanggung adalah PEMBELI…

masukan menarik mas ahmad…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: