jump to navigation

Jangan Memberi Cap Bandel Agustus 10, 2009

Posted by ekojuli in business wisdom, parenting, PRIVATE, Touching Story.
Tags: , , , , , , , , , , ,
trackback

Seringkali mendengar orang tua mengatakan anaknya “nakal” atau “bandel” saya merasa risih. Istri saya bilang kepada pasiennya jangan katakan anaknya nakal… tapi pintarrr. Tetapi saya lebih suka mengatakan anak dengan energi berlebih.

rifqi

rifqi

Suatu hari Mbah AKung nya Rifqi dari Purworejo berkunjung ke Balikpapan. Dia mendapati Rifqi (5 tahun waktu itu) sedang melempari genting rumah tetangga dengan batu. (Untung tetangga lagi nggak ada di rumah… Sssst jangan bilang2 ma tetangga saya ya…). Tentu saja Rifqi tidak bermaksud merusak… dia hanya Fun… dia angap sebuah permainan. (Tentu saja bila ada orang lain melihat (bagi mereka) sangat mudah mengatakan “Rifqi tuh Anak Nakal…” )

Melihat kelakuan cucunya, Mbah Kung tidak menegur langsung… Dia mengambil potongan tripleks, dan membuat target sasaran berupa bundaran-bundaran ditulisi angka-angka tertentu. Mungkin sama seperti target menembak di kepolisian.

Selanjutnya dengan bekal sebuah batu kecil, Rifqi diminta melempar “terget’ yang telah dibuat tadi… Semakin kecil lingkaran semakin besar score-nya. Wah…. Rifqi semakin fun dengan permainannya…. Tentu saja sambil bermain Akung, menasehati Rifqi, jika melempari genting itu akan begini begitu bla bla….. Nice effort, Kung…!!!

Jadi?… Ya gitu deh…. Jangan Memberi Cap kepada Anak sebagai Anak Nakal… atau dia akan menjadi seperti yang di Cap oleh lingkungannya…
Banyak cara simple untuk mengarahkan anak-anak. Komunikasi kuncinya saya rasa.

Saya punya kisah Inspiratif untuk di sharingkan:

Pemenang Nobel Fisika : Murid yang Bandel

Ini adalah cerita tentang kejadian berpuluh-puluh tahun yang silam di daratan Eropa. Kisah ini bercerita tentang Millboard, satu-satunya pemenang hadiah Nobel Fisika dari Denmark.

Pada saat ujian fisika, ada sebuah pertanyaan dari seorang dosen. Pertanyaan tersebut adalah “Bagaimana menentukan tinggi sebuah gedung 35 lantai dengan menggunakan barometer. Pertanyaan ini sebenarnya relatif mudah.

Diantara sekian banyak murid ada satu murid yang sangat bandel. Dia menjawab, “Kita menggunakan benang yang diikatkan pada ujung barometer tersebut, lalu kita turunkan dari lantai 35 sampai menyentuh tanah. Kita berikan tanda pada benangnya, kemudian kita tarik lagi ke atas dan diukur berapa meter panjang benang tersebut. Lalu ditambah 35 cm (panjang barometer). Maka kita akan tahu berapa tinggi gedung tersebut.”

Dosenya sangat marah mendengar jawaban tersebut. Karena selain bandel, si guru juga sangat membencinya. Akhirnya si guru tersebut tidak meluluskan ujian nya. Si murid pun mengajukan keberatan kepada dewan sekolah untuk meninjau angka ujiannya. Di hadapan dewan, murid tersebut menjelaskan jawaban ujiannya.

Singkatnya, pada saat itu karena gurunya tahu bahwa anak ini pintar, maka dilakukanlah ujian ulang. Dipanggillah empat dosen paling senior untuk menguji murid ini.

Besoknya ketika ujian berlangsung, empat dosen tersebut hanya memberikan waktu 10 menit untuk menjawab pertanyaan semua soal ujian. Dengan secarik kertas, dia mencorat-coret, menggambar bintang, bulan, dan sebagainya.

Empat dosen ini mulai marah karena pada menit yang kedelapan dia belum juga memberikan jawaban apapun.

Sampai akhirnya dosen-dosen tersebut bertanya, “Sebenarnya kau bisa menjawab tidak?”

Si murid menjawab, “Saya sebenarnya mempunyai banyak jawaban tetapi saya bingung, saya harus memberikan jawaban yang mana”.

“Pertama, saya bisa saja melihat sinar matahari pada pukul 09.00. Gedung tersebut pasti mempunyai bayangan. Kita ukur bayangan tersebut. Kalau misalnya bayangan tersebut panjangnya 150 m, lalu saya akan mengambil barometer dan dikenakan ke matahari. Saya juga akan tahu berapa panjang bayangan barometer tersebut. Kalau panjang barometer tersebut 50 cm, maka dengan perbandingan sederhana saya bisa tahu tinggi gedung tersebut.

“Kedua, saya bisa saja membawa barometer tersebut ke lantai paling atas. Dengan memakai time watch, saya jatuhkan barometer tersebut. Tunggu beberapa detik sampai barometer itu menyentuh lantai. Saya langsung tahu berapa waktu yang dibutuhkan oleh barometer untuk

menyentuh lantai bawah. Dengan menggunakan pengukuran gravitasi bumi dan kecepatan barang itu jatuh, saya bisa tahu tinggi gedung itu tetapi sayangnya barometer tersebut akan pecah”. “Saya juga sempat berpikir begini, kalau saya naik tangga darurat, kemudian saya ukur tingginya tangga tersebut dengan barometer satu per satu. Tinggal mengalikan 35cm maka saya akan mengetahui berapa tingginya gedung tersebut. Tentu banyak cara lain”.

“Saya juga bisa menggunakan dengan cara yang sederhana dengan melihat tekanan udara di bawah berapa dan di atas berapa. Dengan menggunakan rumus sederhana, saya bisa tahu jawabannya”.

Jawaban inilah yang sebenarnya diinginkan oleh dosen, tetapi tentu saja ini adalah jawaban yang sangat bodoh.

Lalu diteruskannya, kalau ingin yang lebih scientific, maka kita bisa gunakan pendulum. Ikatkan pendulum pada seutas tali sepanjang1 m kemudian swing-kan pendulum tersebut di lantai bawah.

Si mahasiswa meneruskan kalimatnya. “Saya juga akan melakukannya di lantai atas.

Perbedaan kecepatan swing dengan menggunakan rumus yang complicated, bisa mendapatkan tinggi gedung tersebut. Karena gaya gravitasi yang berbeda pada ketinggian lantai 35 dan lantai dasar. Tentu cara tersebut sangat sederhana dan bermacam-macam.

Tetapi yang paling saya sukai adalah jika saya tinggal bertanya saja pada satpam berapa tinggi gedung ini, kalau Anda bisa jawab saya kasih hadiah barometer.”

Nah, akhirnya Niels Bohr diluluskan dan dia adalah satu-satunya pemenang hadiah Nobel fisika dari Denmark.

Dalam kehidupan ini banyak yang nyleneh seperti itu. Kita tidak bisa menilai bahwa orang itu nakal, bodoh dan sebagainya. Mereka kadang-kadang akan mengejutkan dunia ini.

>>>> sumber: tanadisantoso.com

semoga cerita diatas bisa menginspirasi kita semua

Komentar»

1. fathin - Agustus 10, 2009

wah.. nice story…
keep to be best father for your child..

hebat bos..🙂
makasih..
salam.

makasih

2. feeds.bloggerpurworejo.com » Jangan Memberi Cap Bandel - Agustus 10, 2009

[…] Jangan Memberi Cap Bandel Filed under: Uncategorized — @ 1:13 am […]

3. yuanarose - Agustus 10, 2009

Setuju 1000 % krn dg cap Bandel atau Nakal, anak smakin menunjukkan sikap2 yg tdk wajar dan bisa jadi menjadi sebaliknya dg menyembunyikan sikap penasarannya. Anak2 ini memang punya energi lebih untuk mengenal lingkungannya. Kadang2 orang tua capek dan tdk sabar…Anak2 tsb bisa jd anak cerdas. Anak cerdas yg tidk mendapat pendampingan dan arahan bs jd memanfaatkan kecerdasannya dlm bentuk negatif. Contohnya anak yg suka otak-atik komputer dan internet, mereka bs lakukan ‘cyber crime’, membuat BOM,dll.Tapi ya, syukuri saja bahwa anak2 ini amanah dari Alloh yg wajib kita jaga.
Saya punya cerita mungkin dpt menginspirasi kita dalam menjaga amanah Alloh tersebut sebaik2nya dan sbg obat untuk para orang tua yg punya anak2 aktif:
Nama2 orang berikut adlh yg tdk masuk hitungan sebagai anak pintar dan berbakat
1. John F. Kennedy dahulu selalu menerima rapot bertuliskan ‘prestasi buruk’
2. Guru musik Beethoven pernah berkomentar bahwa Bethoven tdk punya harapan sbg pengarang lagu
3. Winston Churcill pernah tdk naik kelas di kls enam.Ia lulus di peringkat terakhir dr kelasnya di Harrow, Inggris
4. Walt Disney pernah dipecat oleh editor sebuah surat kabar karena dianggap tak punya ide bagus dan terlalu banyak corat-coret
5. Albert Einstein pernah gagal dalam ujian matematika

thx for sharing

4. kak zepe lagu2anak.blogspot.com - Oktober 27, 2011

artikel menari.. dan blog yang luar biasa…
Saya juga punya koleksi lagu anak-anak..
cocok banget untuk media pengajaran anak-anak usia dini…
ada juga tips parenting..dan tips pendidikan kreatif..
pokoknya komplit deh..
kunjung ya…
http://lagu2anak.blogspot.com
kalau mau bertukar link…silakan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: